BREAKING NEWS :
Loading...

Bukan Warung Remang yang Remang

Keremangan ini bukanlah keremangan yang remang. Ini adalah keremangan dalam pencarian pencerahan.

Mencoba Posting Melalui Aplikasi


Zaman Sekarang apapun berusaha dilipat dalam satu alat yang bisa dibawa kemari. Jam, kalender, mesin ketik, pesawat telfon, pesawat televisi, radio, pasar, bioskop, bahkan mungkin kamar mandi dan dapurpun sedang diusahakan oleh ilmuwan untuk bisa dilipat, diringkas dan dimasukkan dalam satu perangkat.

Smartphone, orang-orang menyebutnya demikian. Dengan Smartphone ini semuanya jadi satu, ringkas dan mudah untuk digunakan. Apapun ada, secara non fisik, mungkin ini yang disebut era Postmodernisme Baudrillard dimana segala sesuatunya adalah simulasi sehingga kemungkinan-kemungkinan yang dulu hampir tidak mungkin menjadi mungkin meskipun non fisik dan meskipun pula tidak imajiner. Atau bisa juga mungkin ini adalah budaya hiperrealitas yang dimaksud Umberto Eco.

Saya pernah mencoba iseng untuk membayangkan apa saja yang ada di smartphone jadul saya dan bagaimana jika semua hal yang ada didalam perangkat smartphone ini diwujudkan dalam bentuk fisik, maka dalam imajinasi saya tersebut apa yang ada dalam smartphone ini akan memenuh ruang tamu dirumah saya.

Dengan demikian, saya mencoba perangkat saya saya pasang aplikasi untuk blog. Dengan harapan, saya bisa posting tulisan melalui perangkat kecil saya. Maklum masih mencoba dan masih juga belajar memanfaatkan perangkat jadi masih "alay" dan "mbungahi". Lagian saya juga tergolong pengguna baru perangkat canggih semacam ini.

Lupa Ladang


Kata Bapak, "jangan berfikir kamu anak gaul, anak pandai, anak pintar, jika kamu belum bisa mencarikan rumput yang cukup untuk pakan kambing."

Bisa jadi, benar kata bapak. Sebab, mulai dari generasi saya banyak anak-anak sepermainan tidak bisa mencari pakan untuk ternak milik orang tuanya dimana ternak-ternak ini menjadi salah satu sunmber penghasilan orang tua untuk membiayai segala kebutuhan anak-anaknya. Termasuk saat mereka beruntung masuk di perguruan tinggi. Semakin tinggi sekolah banyak diantara mereka melupakan apa yang menajadi sebab mereka bisa sekolah tinggi. Mereka melupakan berani, mereka melupakan bercocok tanam, dan mereka melupakan banyak hal yang menjadi kegiatan "alami" khas orang-orang kampung.

Banyak diantara teman-teman saya yang kelak setelah lulus kuliah berkeinginan menjadi orang-orang "kantoran". Bersepatu, berpakaian rapi, wangi, tanpa bergumul dengan "endut" padahal, endut inilah yang mengantarkan mereka sampai semester sekian, mengantarkan mereka menjadi sarjana.

Menunggu Ide untuk Tulisan Bermutu



seorang penulis harus memiliki kemampuan berpikir logis, sistematis dan kritis dan ketiga-tiganya adalah kelemahan saya

Tulisan bermutu...??
Entahlah saya sebenarnya tidak tahu bagaimana kriteria tulisan bermutu itu. Karena saya juga tidak suka membaca tidak seperti teman-teman mahasiswa yang lain. Saya hanya suka membaca humor-humor dan anekdot meskipun saya tidak bisa menjadi humoris yang menghibur karena Saya hanya  menghibur diri dengan membaca yang humor-humor itu, diluar tulisan humor dan anekdot, nanti dulu saya akan menjadi suntuk jika membaca tulisan serius seperti tulisan-tulisan di koran. Eh...tapi ada lagi tulisan yang saya suka, yakni novel romantis ala teenlid ("teenlid" tulisannya bagaimana ya...?)

Beberapa kali saya berusaha menulis tulisan yang menurut saya bermutu namun tak kunjung jadi. Untuk apa? Setidaknya untuk mengisi blog saya ini agar pantas dibaca orang dan tidak memalukan. Setiap kali saya akan memulai sebuah tulisan saya hati menjadi ciut secara tiba-tiba karena memang saya tidak  terbiasa untuk menulis meskipun itu tugas makalah, karena tugas makalahpun hampir tidak ada yang saya tulis sendiri, makalah saya buat dengan cara copy dari website saya paste di MS Word lalu saya delete hal yang tidak diperlukan dan jadilah makalah ala saya kemudian makalah saya berikan ke dosen lalu presentasi lalu dapat nilai (ya...agar secepat mungkin jadi sarjana). Akhirnya bakal tulisan yang saya maksud tadi hanya saya tulis, saya hapus; saya tulis lagi, saya hapus lagi dan akhirnya tulisannyapun tak kunjung jadi.

Terkait dengan tulisan bermutu ini, suatu hari, tepatnya sekitar aeminggu yang lalu, saya bertemu dengan salah seorang teman yang menjadi aktifis Pers Mahasiswa kampus diwarung kopi. Tak lain dan tak bukan teman saya ini adalah aktifis di LPM Al-Millah (kabarnya, teman saya ini sekarang jadi Pemred). Kata teman saya ini kalau ingin menulis tulisan bermutu saya perlu banyak membaca. Tidak cukup hanya banyak membaca saja, seorang penulis harus memiliki kemampuan berpikir logis, sistematis dan kritis dan ketiga-tiganya adalah kelemahan saya. Saya pemalas dalam hal membaca , kemampuan berfikir logis saya buruk, belum lagi daya pikir kritis saya minim sekali minimya tidak hanya sekali bahkan minim berkali-kali atau dengan kata lain "kebangeten", karena saya tidak pernah ikut belajar metode berfikir kritis ala teman-teman saya yang lain.

Masih kata teman saya tadi, sebagai orang yang ingin menulis bermutu banyak membaca adalah sarana sumber dan bahan "pemantik" sebuah tulisan sedangkan kemampuan berfikir logis, sistematis dan kritis ini dibutuhkan untuk menyajikan tulisan agar menarik serta bisa mempengaruhi pembacanya sehingga tulisannya bisa menimbulkan efek yang diharapkan oleh penulis. Jika seorang penulis tidak mempunyai kemampuan ini maka tulisannya akan menjadi "lucu" masih beruntung kalau lucu yang dimaksud adalah membuat pembaca tertawa, lha kalau lucu yang dimaksud adalah jelek? bukannya ini mengenaskan?? Selain "lucu"  tulisan orang yang tidak memiliki kemampuan berfikir logis, sistematis dan kritis menjadi tidak menarik bahkan rancu meskipun penulisnya memiliki segudang ilmu dan "rakus buku". Bahkan, kata teman saya, orang sehebat Bertrand Russelpun masih merasa tulisannya belum bisa membawa pengaruh kepada pembacanya karena Russel merasa daya fikir sistematisnya masih kurang. Jadi, tipe orang seperti saya tidak masuk bahkan jauh dari kategori orang yang akan melahirkan tulisan bermutu seperti yang dikatakan teman saya tadi.

Karena saya tetap ingin mengisi blog dengan tulisan saya sendiri walaupun sedikit dan tidak bermutu, dengan berat hati serta kecil hati maka perlahan-lahan saya paksakan untu mulai menuliskan huruf demi huruf, merangkai kata demi kata mencoba dan setengah memaksa untuk memunculkan ide yang akhirnya jadilah sebuah tulisan. Tulisan tidak bermutu juga.

Dan....Tulisan yang saya maksud adalah tulisan ini.


Jika Saya Gus Mus


Entah kenapa saya jadi tidak kuat "ngempet" marah ketika melihat screen shot twiter diatas.

Saya tahu hal ini bukan wilayah saya untuk ikut marah, seharusnya malah Gus Mus sendiri yang lebih berhak marah ketika ada yang mengatakan seperti itu kepada beliau.

Saya juga sadar beliau sebagai manusia juga tidak terlepas dari kesalahan manusiawi dan tidak pula menutup kemungkinan ada orang-orang yang tidak menyukai beliau atau bahkan membenci beliau. Namun, saya tetap tidak bisa "ngempet" untuk ikut - ikutan emosi tinggi melihat tweet tersebut.

Namun, Gus Mus justeru tidak semarah saya. Jika saya yang menjadi beliau saya sudah tuntut si pengucap kata-kata kasar itu, saya akan ajak masa beramai-ramai untuk demo agar anak yang bersangkutan di penjarakan atas tuduhan penistaan ulamak, saya yakin Gus Mus bisa menggerakkan massa yang tidak hanya ratusan.

Atau kalau tidak, saya akan bikin video nangis-nangis di instagram agar banyak orang yang "trenyuh" dan perhatian kepada saya karena telah dinistakan oleh seorang anak muda yang tidak memiliki sopan santun kepada ulamak seperti ulamak yang sering muncul di tipi nasional itu.

Untung Gus Mus tidak hanya seperti saya, beliau tetap sabar, lapang dada dan tetap penuh kerendahhatian menerima kata-kata kasar itu.

Semoga beliau tetap diberi kebahagiaan dan tetap di rahmati serta di berkahi Allah. Amin...

Rokok "Foging"



Pagi-pagi, berangkat dari rumah pamit pada orang tua untuk ngampus sampai pertigaan selatan kampus belok sedikit langsung parkir didepan warung toh waktu masih pagi dan kuliah dimulai jam kedua. Ya...wakoka, tempat idola untuk ngopi sambil memelihara kewarasan manusiawi saya.

Pesan kopi mengambil voucher wi-fi duduk sambil memainkan hape kesayangan. Sudah mirip juragan yang kurang pekerjaan, beberapa saat kemudian datang sekelompok anak SMA yang duduk disebelah saya mereka beramai-ramai (iyalah wong datangnya saja sekelompok). Mereka bercerita ngalor dan ngidul yang saya juga tidak begitu "Nggatekke" dengan apa yang mereka ceritakan dan saya juga tidak peduli dengan mereka saya lebih peduli dengan sosial media yang ada di genggaman saya.

Namun, saya tiba-tiba menjadi perhatian kepada mereka karena beberapa dari mereka menceritakan soal rokok. diantara mereka menceritakan kalau rokok tidak berbahaya bagi tubuh bahkan salah satu dari mereka mengatakan kalau rokok banayak manfaatnya bagi tubuh manusia dan bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Saya tidak setuju dengan hal ini, karena pada dasarnya rokok berbahaya dan menjadi racun bagi tubuh kalau ada yang bilang rokok tidak berbahaya bagi tubuh itu mungkin hanya pembenaran mereka para perokok. Saya lebih tidak sepakat lagi kalau rokok dianggap menyehatkan, menyehatkan dari mananya dari baunya saja rokok sudah sangat mengganggu bagi orang yang tidak merokok. Namun itu semua hanya batin saya karena saya tidak berani untuk ikut "nimbrung" pembicaraan mereka, sambil membatin inipun saya sambil menghisap sigaret kesukaan saya.

Saya lebih perhatian lagi saat tiba-tiba muncul banyak asap dari kumpulan mereka, awalnya saya mengira mereka menyalakan mesin Foging anti nyamuk seperti yang ada di tipi-tipi. waahhhh.....ternyata tidak sekedar menyalakan mereka malah menghisap alat foging tersebut. Dan aroma dari alat foging yang mereka hisap sangat menyengat tapi tidak seperti aroma knalpot motor dua tak saya, aromanya harum cuma lumayan mengganggu dan menyebabkan mual di perut. Benar saja kalau saya sebut mereka menghisap alat Foging karena mereka menyebut apa yang dihisapnya dengan istilah "vape" seperti merek salah satu obat nyamuk yang ada di kios tetangga saya.

Berawal dari "foging" mereka ini saya mulai berani bertanya-tanya soal "foging" kepada mereka. Kata mereka merokok dengan alat "foging" ini lebih aman di bandingkan dengan rokok tradisional, apa benar demikian? dilain waktu saya mencoba mencari-cari kebenaran klaim "foging" lebih aman dari rokok tradisional.

Saya kutip dari: hellosehat.com begini pernyataannya

Menurut dr. Nauki Kunugita, seorang peneliti dari National Institute of Public Health di Jepang, dalam salah satu rokok elektrik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen (kelompok zat yang secara langsung dapat merusak DNA, mempromosikan atau membantu kanker) dibandingkan satu batang rokok biasa.
Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan menjelaskan dalam siaran persnya bahwa larutan nikotin yang terdapat pada rokok elektrik memiliki komposisi yang berbeda-beda dan secara umum ada 4 jenis campuran. Namun semua jenis campuran mengandung nikotin, propilen glikol.

CNN Indonesia juga mengatakan bahwa bahaya vape termasuk menyebabkan terjadinya keracunan akut nikotin dan adanya kasus kematian anak. Tak hanya rokoknya yang berbahaya, uap yang terhirup dapat menimbulkan serangan asma, sesak napas, dan batuk. Rokok ini juga berbahaya untuk penderita pneumonia, gagal jantung, disorientasi, kejang, hipotensi, sampai luka bakar akibat meledaknya rokok elektrik dalam mulut.

Jadi, hingga saat ini tidak ada fakta yang membuktikan bahwa rokok elektrik lebih aman dibandingkan dengan rokok tembakau. Seperti yang dilansir dari cnnindonesia.com, berbagai studi telah melakukan penelitian terhadap rokok elektrik dan hasil dari penelitian tersebut adalah:

  1. Rokok elektrik ini diklaim mengandung zat berbahaya seperti Tobacco Specific Nitrosamines (TSNA), Diethylene Glycol (DEG) dan karbon monoksida.
  2. Penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang bisa meningkatkan kadar plasma nikotin secara signifikan setelah lima menit penggunaannya.
  3. Tak hanya itu, rokok ini juga meningkatkan kadar plasma karbon monoksida dan frekuensi nadi secara signifikan yang dapat mengganggu kesehatan.
  4. Memiliki efek akut pada paru seperti pada rokok tembakau, yaitu kadar nitrit oksida udara ekshalasi menurun secara signifikan dan tahanan jalan napas meningkat signifikan.
  5. Bahkan, bahaya vape juga termasuk dapat mendorong budaya merokok pada anak-anak, seperti yang diterangkan oleh Jessica, pemimpin studi dari University of Southern California, Amerika Serikat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memberi peringatan kepada seluruh negara di dunia untuk melarang anak-anak, ibu hamil, dan wanita usia produktif untuk mengisap rokok elektrik.

Itu masih satu situs yang saya baca belum lagi situs-situs yang lain yang menyatakan bahaya rokok "foging" ini.

Kembali kesaat bertemu anak-anak "foger (sebutan untuk mereka penghisap alat foging)" ternayata rokok dengan alat "foging" ini memiliki kelebihan seperti warung rujak karena bisa memilih rasa-rasa tertentu untuk rokok ini bisa rasa apel, rasa anggur, rasa pepaya, duren, blue beri dan lain-lain yang jelas belum ada rasa black berry-nya.

Sebenarnya sejak mula saya mendengar nama jenis rokok "foging" ini saya sudah yakin tidak aman, dilihat dari namanya sudah sangat berbahaya karena namanya sama dengan nama obat nyamuk yang agak terkenal itu.

Pada akhirnya jika dipikir lebih jauh, rokok tidak ada yang benar-benar aman, apapun jenisnya rokok memiliki sisi bahayanya namun akan lebih aman rokok tradisional, kita lihat saja kakek-kakek dipedesaan yang usianya sudah sangat tua masih saja merokok malah diantara mereka merokok tanpa ada campuran cengkehnya, dan banyak diatara mereka yang sehat-sehat saja.

Pemula Mengisi Blog




Blogger, bagi saya merupakan hal yang baru saya kenal. Kenalnyapun dari teman-teman yang lebih canggih dari saya dan pembuatan akun sekaligus tata letaknya juga teman saya, dia lebih suka disebut "Seruni".

Dan, kata teman saya tadi blog bisa menjadi tempat untuk mengisi waktu luang saya untuk sekedar menorehkan dan menyusun abjad dari A sampai Z dari 0 kembali ke 0 lagi. Ya...sekedar belajar berkata-kata melalui tulisan.

Di awal postingan awal saya ini sebenarnya saya bingung mau mengatakan apa, hanya saja saya ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman saya "Seruni"  yang telah membuatkan saya blog dengan gratis. :) Dan saya harap dia tidak bosan untuk "nuntuni" saya satu persatu dalam hal blog ini.

Selanjutnya, anggap saja ini sebagai sambutan saya dalam postingan pertama saya ini. Jika memang tiba-tiba ada yang kesasar membaca blog saya ini saya ucapkan selamat datang dan selamat membaca tulisan yang memuakkan.

Sudah begitu saja saya sudah tidak telaten nulisnya...

Ngopi Cantik



Mendekatkan museum kepada masyarakat luas memang tidak mudah. Apa lagi selama ini museum sering kali lekat dengan kesan menjemukan. Padahal museum adalah wahana memahami sejarah dan budaya masyarakat Nusantara di masa lalu. Pengelola museum perlu menerapkan pendekatan-pendekatan yang lebih segar untuk mempopulerkannya. Salah satunya dengan mengajak ngopi di museum.

“Saya ingin mengajak orang mencintai museum dengan cara yang fun, itu sebabnya acara ini tajuknya Ngopi Cantik. Kalau kami menggelar seminar orang pasti jenuh. Siapa yang mau datang kalau jenuh duluan?” terang Krisnina Akbar Tanjung kepada Historia usai acara Ngopi Cantik Di Museum Bahari, Minggu (30/10).

Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan No. 1 Penjaringan, Jakarta Utara. Bekas gudang penyimpanan rempah-rempah atau “gudang barang tepi barat kali” (westzijdsche pakhuizen) ini dibangun di belakang tembok Kota Batavia. Dahulunya, wilayah ini berupa rawa-rawa dan empang.

Museum Bahari terdiri dari beberapa bangunan dengan tahun pembuatan yanga berbeda-beda. Bangunan pertama dibuat pada 1652 dan terakhir dibangun tahun 1774. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini tetap difungsikan sebagai gudang, begitu pula setelah masa kemerdekaan. Dari tahun 1962 sampai 1977, bangunan ini tetap sebagai gudang yang dikelola oleh Perumtel (Perusahaan Umum Telekomunikasi). Akhirnya, pada 7 Juli 1977 diserahkan ke pemerintah daerah DKI Jakarta untuk dijadikan sebagai Museum Bahari.

Museum Bahari satu-satunya museum di Indonesia yang menyajikan tema spesifik kebaharian. Para peserta dapat menikmati kurang lebih 1.670 koleksi dari berbagai aspek kebaharian yang dipamerkan, termasuk benda warisan alam dan warisan budaya. Koleksi-koleksi seperti perahu tradisional (asli dan model) yang terdapat di Nusantara antara lain perahu Bugis, pinisi, padekawang, miniatur perahu Alut Pasa dari Kalimantan dan kapal perang dari Maluku yang disebut kora-kora. Selain itu, terdapat pula koleksi terkait biota laut, arkeologi laut, perlengkapan nelayan, antropologi dan folklore nelayan, sejarah hubungan pelayaran Nusantara dan Belanda, wisata Bahari, matra TNI Angkatan Laut, lukisan para tokoh kebaharian, dan informasi penting lainnya tentang kemaritiman.

Acara Ngopi Cantik diselenggarakan oleh Yayasan Warna Warni Indonesia (WWI) yang diketuai Nina, sapaan Krisnina Akbar Tanjung. Mengundang rekan, kolega, dan yayasan mitra WWI, acara dibuka dengan tur Museum Bahari. Para peserta diajak berkeliling museum dengan dipandu petugas museum. Di sela-sela tur, banyak peserta yang sebagian besar perempuan, memanfaatkan arsitektur museum untuk berfoto.

“Harapan kami dengan kegiatan yang menyenangkan seperti ini bisa menularkan virus-virus cinta museum dan sejarah bangsa. Kami bagikan juga handout kepada peserta supaya kegiatan senang-senang itu juga tetap bernilai edukasi,” tutur Nina.

Usai berkeliling museum peserta disuguhi racikan kopi dan cokelat macadamia hasil produksi PT PTPN XII dan PT Riset Perkebunan Nusantara. Panitia dari WWI mengundang perwakilan kedua perusahaan agribisnis itu guna mempromosikan komoditas kopi lokal berkualitas.

“Dengan ini dua tujuan bisa dicapai. Bulan Oktober ini terjadi beberapa peristiwa sejarah penting dan sekaligus Hari Kopi Sedunia. Jadi kita belajar sejarah dan merayakan juga hari kopi. Pokoknya semua yang kita punya, mesti kita bangkitkan,” kata Nina.

Acara sore menjelang senja itu kian hangat dengan penampilan band akustik yang rancak. Puncak acara ditutup dengan menari bersama seluruh peserta. Nina selaku penggagas acara mengaku senang dengan kemeriahan acara sore itu.

“Please come to museum dan mari kita sama-sama perhatikan museum. Saya berharap semakin banyak pembangunan budaya dan sejarah. Semua peninggalan ini harus terus dirawat,” pungkas Nina menutup pembicaraan sore itu.