BREAKING NEWS :
Loading...

Dewa dari Leuwinanggung


Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?


LEUWINANGGUNG adalah sebuah desa yang mirip kebanyakan dusun Pulau Jawa, dimana ada banyak rumah, berderetan pada sebuah jalan utama, diselingi jalan-jalan kecil, beberapa sekolah, ada sebuah masjid besar, ada sebuah klinik, banyak pepohonan dan kerindangan bambu, lantas ada madrasah ibtidaiyah, tempat anak-anak belajar matematika juga agama Islam, serta kantor lurah lengkap dengan pegawai negeri berseragam coklat, walau Leuwinanggung tidak sama dengan desa-desa lain di Pulau Jawa karena di sana ada rumah seorang dewa. Namanya Iwan Fals.

Sang dewa ini tinggal di sebuah rumah besar, tanahnya 6.000 meter persegi, bagian terbesar dipakai untuk sebuah toko, pendopo, sebuah panggung terbuka, maupun kantor organisasi para penggemar si dewa bernama Oi. Sedang kediaman pribadi sang dewa dilengkapi studio musik, garasi mobil (termasuk bus), rumah tinggal, serta kebun dengan rumput tercukur rapi.

Suatu sore September lalu, Iwan Fals menceritakan perkenalannya dengan Leuwinanggung pada saya. “Tahun 1982 saya cari tanah di sini, maksudnya untuk investasi saja,” katanya. Dia membeli tanah dari rezeki penjualan kaset Sarjana Muda yang diluncurkan 1981 dan terjual 300 ribu buah. Kisah berikutnya, dia sekali-sekali datang dari Jakarta bersama istrinya, mantan model Yos Rosana, menengok tanah mereka serta membawa pulang buah-buahan dari kebun.

Leuwinanggung menarik karena warganya rukun. Kalau ada acara perkawinan, jaipongan, atau kematian, semuanya kumpul. “Bila ada kematian, pengunjung yang datang justru dibayar. Diberi uang. Mereka bahkan sampai ngutang. Dalam hati saya pikir, ‘Gagah amat.’ Saya merasa kecil sekali. Kayak jawara gitu. Ada kegagahan di sini. Kalau mereka datang kenduri, duduk, pandangan ke depan, nggak ditegur ya diam saja. Kalau ada makan ya nggak rakus. Saya kan dulu nggak tahu. Ada makanan ya saya makan,” kata Iwan.

Kalau sedang tak sibuk, Iwan ikut salawatan tiap malam Jumat. “Bahasanya campur Arab, Sunda, Jawa. Ada 20 nomor salawatan lama yang saya kumpulkan.” Salawatan untuk sebuah desa macam Leuwinanggung, yang tanahnya, kapling demi kapling dibeli orang Jakarta, dan anak-anak mudanya mulai kekurangan pekerjaan, bisa jadi kekuatan untuk desa ini. “Kekuatan secara batin, secara spiritual,” kata Iwan.

Leuwinanggung sendiri terletak di daerah Bogor. Penduduk di sana sehari-hari bicara bahasa Sunda kasar. Orang butuh sekitar satu jam naik taksi dari Jakarta ke Leuwinanggung. Daerahnya terpencil. Selewat magrib, jalanan Leuwinanggung sepi dan jarang ada kendaraan. Ketika 16 Agustus lalu saya kemalaman di Leuwinanggung, lewat tengah malam saya jalan kaki empat kilometer untuk mendapatkan tukang ojek.

Ketika itu sekitar 600 penggemar Fals dan penduduk Leuwinanggung merayakan Agustusan bersama. Di sanalah saya menemukan banyak iwan fals. Mereka bergaya ala Fals dengan rambut gondrong, jins belel, memberi salam dan berteriak “Oi.” Suaranya dibuat dalam, agak serak. Di panggung, lagu-lagu Fals dibawakan bergantian, dari yang mirip aransemen aslinya, sehingga mendapat tepuk tangan, sampai yang ditertawakan penonton—dapat tepuk tangan juga.

Yang ditertawakan termasuk seorang pemuda 30-an tahun. Topinya merah, rambutnya gondrong sepundak, kulitnya gelap, giginya putih bersih, dan namanya Fajar Wijaya. Fajar seorang pengamen kelahiran Yogyakarta tapi lebih sering mengamen di Cilegon. “Saya terharu, menjerit, merasa ada panggilan hati. Dapat bimbingan dari lagunya itu,” katanya, mengacu lagu Di Mata Air Tak Ada Air Mata.

“Saya merasa kok ada hikmah tersendiri buat hidup saya. Saya merantau. (Lagu) ini nasihat dalam perjalanan hidup saya. Saya merenungkan jati diri saya,” kata Fajar, tersenyum, menarik-narik baju lurik lusuh.

Iwan Fals memang bukan dewa dalam pengertian mitologi Yunani. Mungkin kedewaan Fals lebih dekat dengan fenomena musik 1960-an ketika dinding-dinding kota London dicorat-coret dengan kalimat, “Clapton is god (Clapton seorang dewa).” Mereka yang anonim itu memuja Eric Clapton, gitaris blues Yardbirds yang muncul di Inggris pada 1963. Majalah Rolling Stone menyebut Clapton menonjol karena konsisten menjaga standar mutu karyanya.

Orang yang malam Agustusan itu tak kalah sibuknya dengan Fajar adalah Slamet Setyabudi, koordinator keamanan Oi, yang sehari-hari bekerja sebagai tentara dengan pangkat sersan dua dari Pasukan Pengawal Presiden. Slamet badannya tegap, orangnya ramah. Dia anggota Grup C, yang bertugas mengawal tamu-tamu negara. Dia pernah mengawal Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Timor Lorosa’e Xanana Gusmao.

“Habis dinas saya ke sini,” katanya.

Slamet sesekali membawa rekan-rekannya ke Leuwinanggung untuk bantu keamanan. “Tentara yang penggemar Mas Iwan ini sebenarnya banyak,” katanya. Saya sempat berpikir nakal. Negara Indonesia membayari ratusan tentara untuk mengawal presiden dan wakil presiden. Mereka menerima gaji, sering pergi ke luar negeri, menerima pelatihan, mendapat seragam keren. Tentara yang sama mengawal Iwan Fals dengan gratis!

Malam itu lebih dari selusin pengurus Oi bercerita tentang Fals pada saya. Mereka cerita para penggemar yang terperangah ketika pertama kali menemui Fals. Banyak yang “gila” dengan memeluk, mencium tangan, dan menangisi Fals. Ada yang datang dari Flores, Riau, Jambi, dan sebagainya.

Malam itu saya berharap melihat ritual tersebut. Ratusan penggemar berharap sang dewa muncul. Namun Iwan tetap tinggal di rumah. Dia “meriang, kecapekan” dan dicurigai kena tipus. Dewa ini ternyata manusia biasa yang bisa sakit.


MALAM itu juga ada Muhamad Ma’mun. Seorang lelaki yang menarik. Penampilannya kalem, rambutnya panjang, dan terkadang dipanggil “Romo.” Ma’mun dulu pernah kerja di perusahaan properti tapi sekarang wiraswasta, memborong pekerjaan bangunan rumah. Ma’mun mengenal keluarga Fals sejak 1985 ketika Iwan mulai mondok di sebuah rumah di Jalan Barkah, daerah Manggarai di pusat Jakarta. Rumah itu milik Lies Suudiyah, seorang pekerja sosial dan ibunda Iwan.

Fals waktu itu sudah berkeluarga dan tinggal di Condet.

“Panggilan rumahnya Tanto,” kata Ma’mun.

Nama lengkapnya Virgiawan Listanto. “Galang masih kecil, belum sekolah, mungkin empat atau lima tahun. Cikal baru bisa jalan,” kata Ma’mun, mengacu pada anak Iwan: Galang Rambu Anarki dan Anisa Cikal Rambu Basae.

Entah kenapa keduanya cocok. Ma’mun usianya tiga tahun lebih tua dari Iwan. Ma’mun kelahiran Solo 1958 sedang Iwan Jakarta 1961. Mungkin mereka punya karakter dasar yang sama. Keduanya orang yang tak ragu mempertanyakan apapun. Saya terkesan dengan kerendahan hati mereka. Ketika mondok, Ma’mun bekerja sebagai pegawai PT Pembangunan Jaya sementara Iwan sudah mulai dikenal sebagai penyanyi. Persahabatan mereka berlanjut hingga sekarang. Ma’mun termasuk orang yang diminta Iwan jadi pengurus Yayasan Orang Indonesia—yayasan sosial yang dibentuk dan diketuai Iwan sendiri.

Pengalaman berkesan Ma’mun terjadi ketika mereka lagi membaca harian sore Sinar Harapan yang memuat foto anggota-anggota parlemen ketiduran saat sidang. “Wah, ini perlu disentil To,” kata Ma’mun.

Iwan menyanding gitar dan Ma’mun membawa pena. Mereka bekerja mencari lirik dan musik. Semalaman mereka bekerja. Hasilnya, lagu Surat Untuk Wakil Rakyat yang dimasukkan dalam album Wakil Rakyat (1987). Ma’mun bangga dengan karya bersama ini apalagi ketika mahasiswa menjadikan lagu itu “lagu wajib” demonstrasi. Hingga kini Ma’mun rutin mendapatkan kiriman uang royalti dari Musica—produser dan distributor sebagian besar album Fals.

Ma’mun menilai temannya itu sebagai salah satu penyanyi kritik sosial terkemuka di Indonesia. Iwan menggunakan bahasa Indonesia, untuk bercerita tentang anak maling yang jadi maling, sunatan massal, pelacur, korupsi, nasib guru, dan sebagainya. Majalah Time Mei lalu menyebutnya “pahlawan Asia”—sejajar dengan Jackie Chan, Xanana Gusmao, dan Aung San Suu Kyi.

Kalau artis lain menjaga penampilan mereka lewat make up menyala, potongan rambut aneh, kostum unik, atau operasi plastik untuk memperindah diri, Iwan Fals tampil biasa. Beberapa kali saya menyaksikan Iwan memakai kaos Shanghai, kaos katun tipis dan lembut, yang harganya Rp 10 ribu selembar, saat konser. Orang toh tetap histeris melihatnya. Iwan mungkin punya kharisma.

Amir Husin Daulay, seorang aktivis mahasiswa 1980-an dari Yayasan Pijar, menyebut Fals “nabi buat para pengikutnya.” Pada 1983, Daulay mengundang Fals mengamen ke kampus Akademi Ilmu Statistik. Iwan datang bersama Yos, membawa gitar, menyanyikan empat lagu, dan mendapat honor Rp 400 ribu. Pengalaman mengamen, yang dilakukannya bertahun-tahun, melatih Iwan menghadapi massa, dari pentas ke pentas, sehingga tahu bagaimana mengatur dirinya sendiri, bagaimana mengatur suara, mana yang disukai, mana yang tak disukai.

Persahabatan Ma’mun dan Iwan meningkat seiring karier mereka berdua. Antara Sarjana Muda hingga album Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu pada 1989, Iwan menghasilkan 13 album bersama Musica. Artinya, hampir satu album tiap enam bulan. Ini luar biasa.

Pada 1989 Iwan menerbitkan album Mata Dewa bersama Arena Indonesia Production (Airo). Mereka berniat mengadakan tur 100 kota. Konser perdana 26 Februari 1989 di Jakarta berjalan baik tapi buntutnya sebelas kendaraan bermotor dirusak. Mengapa kerusuhan terjadi? Sampai hari ini belum ada penjelasan rinci. Apa polisi kurang profesional? Atau Arena Indonesia Production kurang siap? Atau Fals mengeluarkan kalimat-kalimat yang memprovokasi massa?

Tapi tur jalan terus ke Pulau Sumatra. Sore hari 9 Maret 1989, Ma’mun dan Iwan Fals berada di sebuah hotel di Palembang. Keesokannya, Iwan bakal tampil di konser Mata Dewa. Sehabis makan malam, Ma’mun dan Iwan masuk kamar. Di depan cermin, mereka bicara soal persiapan konser.

“Gayane ngene yo?” tanya Iwan, sambil pegang gitar akustik.

“Ojo ndingkluk. Rodo ndegek,” kata Ma’mun. Iwan pun mengubah gayanya memegang gitar.

“Nek penyanyi rock ngene lho!” kata Ma’mun, mengambil gitar dan memberi contoh.

Mereka diskusi sebelum tidur. Keesokan harinya, Sofyan Ali, promotor Arena Indonesia Production, memberi kabar buruk. Polisi Palembang memberitahu ada radiogram dari markas polisi Jakarta. Mereka melarang Fals melanjutkan tur guna menghindari kekacauan. Padahal alat-alat sudah siap, panggung sudah siap. Rencana pertunjukan Palembang, Padang, Jambi, Medan, dan Banda Aceh dilarang. Iwan menangis. “Buat Iwan panggung adalah kehidupannya. Dia jadi hidup kalau di panggung,” kata Ma’mun.

Ironisnya, polisi melarang ketika belum ada penelitian tuntas mengapa keributan Jakarta terjadi. Di mana-mana kumpulan massa punya potensi ribut, dari massa sepak bola hingga musik. Ini tak berarti orang dilarang main bola atau nonton musik bukan? Bagaimana kebudayaan manusia akan maju kalau khawatir ribut? Bukankah polisi dibayar, bahkan negara diadakan, agar kebudayaan bisa maju, agar demokrasi bisa berkembang?

Lebih susah lagi. Di Indonesia, banyak orang malas berpikir, banyak wartawan malas melakukan reportase, dan lebih banyak lagi orang yang suka mengembangkan teori “pihak ketiga.” Di mana-mana ada teori ini. Buruh dilarang demonstrasi karena ditunggangi “pihak ketiga.” Mahasiswa bikin rusuh karena “pihak ketiga.” Saya mempelajari laporan berbagai suratkabar Indonesia dan melihat ada tiga teori “pihak ketiga” di balik pembredelan Mata Dewa.

“Pihak ketiga” pertama adalah “mafia Glodok” yang meminjam tangan polisi untuk mematahkan gaya distribusi kaset ala Sofyan Ali. “Mafia Glodok” adalah sebutan untuk industri rekaman yang berpusat di Glodok, Jakarta. Mereka kebanyakan dikelola pengusaha Indonesia etnik Tionghoa dan dianggap kurang menghargai seni, kurang menghargai musisi, tapi menguasai distribusi kaset. Spekulasi ini datang karena Iwan Fals pindah dari Musica ke tempat Sofyan Ali.

“Pihak ketiga” kedua adalah “industri rokok tertentu” yang meminjam tangan polisi guna menjegal pemasaran rokok Djarum—sponsor utama Mata Dewa. “Pihak ketiga” ketiga adalah pejabat-pejabat “tertentu” yang tak senang dengan kritik sosial Fals.

Tak ada bukti kuat untuk mendukung ketiga teori itu. Tapi cukup banyak alasan mengatakan ketiganya spekulatif. Iwan tak sepenuhnya pindah dari Musica karena ia juga mengerjakan lagu Kemesraan bersama artis Musica. “Saya merasa bersyukur punya partner Musica,” kata Iwan pada saya. Bisnis musik juga kecil sekali dibanding bisnis rokok. Raksasa industri rokok Djarum (Kudus), Sampoerna (Surabaya), Gudang Garam (Kediri), dan BAT (Jakarta) memang bersaing tapi juga bergabung dalam suatu kartel. Promosi lewat Fals memang penting tapi hanya sebagian kecil dari promosi Djarum. Keuntungan Djarum tahun lalu saja sebesar Rp 2,08 triliun atau hampir dua kali lipat omzet semua industri rekaman Indonesia. Siapa pejabat yang tak suka Fals? Setiawan Djody, rekanan bisnis Sofyan Ali dan salah satu pemegang saham PT Airo Swadaya Stupa, juga dekat dengan kalangan pejabat. Mengapa tak ada yang bicara dengan Djody?

Di Palembang tak ada verifikasi dan tawar-menawar. Kekuatan negara Orde Baru sangat kuat. Jangankan Iwan Fals. Protes dari hampir semua organisasi nirlaba di Indonesia, terhadap penggenangan desa-desa calon waduk Kedung Ombo bulan sebelumnya, juga diabaikan rezim Soeharto. Bank Dunia, yang mendanai Kedung Ombo, tak berbuat banyak melihat puluhan ribu petani mengungsi menyelamatkan harta dan nyawa. Iwan melawan. Dia jalan sendirian ke Padang, Jambi, dan lainnya, untuk memberitahu publik dia tak bisa memenuhi janji karena dilarang polisi. Ma’mun pulang ke Jakarta membawa pulang peralatan dengan delapan truk. “Pakaian saya bawa, kopernya saya bawa pulang. Dia cuma bawa pakaian satu.”

Di Jakarta, pelarangan itu juga memprihatinkan musisi lain. Sawung Jabo, musikus dari komunitas Sirkus Barock, menelepon Iwan untuk menyatakan simpati. Iwan pernah ikut pementasan Sirkus Barock pada 1986.

“Saya lupa persisnya. Suatu malam Iwan datang ke rumah saya di Pasar Minggu, yang notabene rumah tempat kami sering ngumpul. Iwan menawarkan untuk membuat album,” kata Jabo.

“Pada awalnya Iwan, kalau tidak salah mengusulkan nama Septiktank, tapi saya dan beberapa kawan menolaknya. Lalu kita mengusulkan nama yang kami pilih lewat lotere. Setelah diundi terpilihlah nama Swami, yang kebetulan nama itu usulan saya.”

Ini plesetan dari kata “suami” karena mereka semua sudah beristeri.

Rata-rata awak Swami pernah terlibat Sirkus Barock. Baik pemain flute Naniel, pemain gitar bass Nanoe, pemain piano Tatas, apalagi drummer Inisisri yang banyak memberi warna musik Sirkus Barock. Hanya Jockie Suryoprayogo dan Totok Tewel agak baru di Sirkus Barock.

Mereka pun bekerja. Lagu paling spektakular berjudul Bento. Iwan sempat mengajak Ma’mun pergi ke studio tempat mixing dan minta komentar tentang Bento. Ma’mun berkomentar, “Wah, ini kayak virus. Ini cepet nyebarnya.”

“Iki piye Mas?” tanya Iwan.

“Apik. Virus kabeh.”

Iwan dan kawan-kawan senang. Mereka makan nasi bungkus sembari mengobrol hingga pagi.

Bento diciptakan Iwan dan Naniel. Liriknya tentang seorang pengusaha serakah dan korup. Bisnisnya “menjagal apa saja” asal dia senang dan persetan orang susah. "Bento" sendiri artinya “goblok” dalam dialek Jawa Timuran. Ketika mengarang Bento, Iwan sempat memperhatikan seorang pengusaha, yang kaya dan kejam, punya rumah real estate. Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini. “Tapi saya nggak perlu sebut (namanya). Saya nggak kenal pribadi, kenal jarak jauh,” katanya pada saya.

namaku Bento, rumah real estate
mobilku banyak, harta melimpah
orang memanggilku bos eksekutif
tokoh papan atas, atas segalanya, asyik

Sawung Jabo membantu aransemen lagu tersebut, “Saya memasukkan unsur tema lead accoustic,” katanya. Ketika beredar ke pasar, Swami memang ibarat virus. Lagu Bongkar juga jadi salah satu hit. Mula-mula media sempat bertanya-tanya apakah TVRI bersedia menyiarkan Swami. TVRI waktu itu satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. TVRI sepenuhnya dikuasai rezim Soeharto. Ternyata tanpa ada keistimewaan, Bongkar muncul pada 13 Maret 1990. Ini mengejutkan banyak wartawan musik. Sekali lagi teori “pihak ketiga” tidak laku.


PADA Maret 1990 rombongan Swami datang ke Salatiga: Sawung Jabo, Iwan Fals, Naniel, Nanoe, Inisisri, penyair W.S. Rendra, pengusaha Setiawan Djody, dan sebagainya. Salatiga sebuah kota kecil di tengah Pulau Jawa yang pada 1980-an secara politik cukup dinamis.

Media banyak memperhatikan kedatangan mereka. Bagaimana tidak? Djody miliuner kapal tanker yang dekat dengan keluarga Soeharto. Rendra seorang penyair, mungkin yang terbaik di Indonesia, yang beberapa kali masuk tahanan Orde Baru. Jabo pemusik yang sering bikin eksperimen bermutu. Iwan sendiri dianggap makin memberontak sejak Palembang. Sebuah kolaborasi unik.

Orang yang berperan mendatangkan Swami ke Salatiga adalah Endi Agus Riyono A.S. atau biasa disingkat Endi Aras—seorang mantan aktivis mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga dan wartawan majalah Film di Jakarta. Endi orangnya ramah, rambut bergelombang sebahu, murah senyum, pandai bergaul, suka musik, dan suka ikut kepanduan. Juli lalu ketika saya mewawancarai Endi, penampilannya tak banyak berubah, walau perutnya agak buncit, sudah berkeluarga, serta memiliki perusahaan sendiri Matamata Communications yang bergerak di bidang public relation dan event organizer.

Endi bertemu Iwan pada 1985 ketika ia diutus rekan-rekannya menghubungi Iwan agar menyanyi dan ceramah di kampus Satya Wacana. “Aku disuruh cari ke Jakarta,” kata Endi. Mulanya Endi cari di Musica tapi tak ada dan ketemunya di Condet. Iwan keberatan datang ke Salatiga, “Aku nggak bisa ngomong,” kata Iwan.

Iwan merekomendasikan penyanyi balada lain. Endi penasaran. Endi pengagum Fals dan punya koleksi lengkap album Fals. Endi pun menulis surat kepada Iwan dan dibalas pakai tulisan tangan. “Apa yang diomongin sama yang dipikir, lebih cepat yang dipikirin,” kata Endi, menerangkan keengganan Iwan tampil pada fora akademik.

Kejadian itu membuka perkawanan Endi dan Iwan. Pada 1989 Endi bekerja di majalah Film. Sebagai wartawan ia menulis soal Iwan. Ini praktik biasa di kalangan wartawan musik Indonesia—menjalin pertemanan dengan sumber-sumber mereka. Endi dan Iwan sering telepon-teleponan. “Ndi kamu ke sini,” ujar Iwan. Bila Endi dolan ke tempat Iwan, mereka bisa mengobrol dari siang sampai malam. Mereka juga sering naik mobil, mengobrol, mengelilingi jalan tol. “Iwan itu senang kalau ada teman ngobrol,” kata Endi.

Endi membawakan buku-buku untuk Iwan. Misalnya Catatan Harian Seorang Demonstran tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Presiden Soekarno, yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru pada 1969.

Endi juga memberikan selebaran-selebaran gelap. Iwan tertarik karena ia simpati pada orang tertindas. Pada 1980-an ketidakpuasan warga Indonesia terhadap rezim Soeharto makin tinggi. Anak-anak Soeharto beranjak dewasa dan terlibat dalam bisnis, dari monopoli cengkeh hingga jalan tol. Militer juga makin kuat mengontrol kehidupan warga walau di sana-sini ada gesekan internal antara militer hijau (muslim) dan militer merah putih (nasionalis).

Di Salatiga Endi sering menginap di kantor Yayasan Geni—sebuah organisasi nirlaba yang banyak terlibat gerakan protes. Satya Wacana 1980-an juga kampus yang memberikan tempat untuk pemikiran kritis, antara lain karena pengaruh dosen-dosen liberal macam Arief Budiman, seorang doktor lulusan Universitas Harvard, kakak kandung Soe Hok Gie, yang getol bicara Marxisme, negara, masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai media. “Iwan ngefans sama Arief Budiman,” kata Endi.

Budiman dekat dengan mahasiswa, antara lain dengan Stanley, panggilan seorang aktivis mahasiwa, nama lengkapnya Yosep Adi Prasetyo. Stanley kawan dekat Endi. Budiman sering mengajak Stanley, Endi, dan mahasiswa lain ikut diskusi. Dari Stanley pula Endi menerima selebaran gelap dan buku. Endi menyampaikannya pada Fals.

Ketika Swami mengeluarkan album, Endi menawari Swami pergi ke Salatiga. Pucuk dicinta ulam tiba. “Biaya dari Djody semua, panitia hanya ngurus tempat. Kita agendakan ngobrol-ngobrol di rumah Arief Budiman,” kata Endi.

Mereka datang lebih awal dan mengadakan dua diskusi. Diskusi agak besaran diadakan di sebuah guest house milik Satya Wacana, sebuah rumah kolonial peninggalan Belanda, yang luas dan megah. Rumah itu dipakai Djody dan peragawati Regina Sandi Harun, istri muda Djody. Diskusi agak kecil diadakan di rumah Budiman sembari makan malam. Rumah ini terletak dekat sungai, dibangun dengan konsep terbuka, menggunakan bambu, dan dijaga beberapa ekor angsa. Budiman mengundang cendekiawan setempat, antara lain pendeta Broto Semedi, Stanley, dan beberapa mahasiswa lain untuk diskusi dengan rombongan Jakarta. Saya kebetulan ikut diundang.

Kami bicara santai, bersila, duduk dengan tikar. Arief Budiman memancing Iwan Fals untuk masuk ke dunia aktivis. “Seniman harus tahu politik,” katanya. Budiman cerita soal Victor Jara dari Chile, pendukung Presiden Salvador Allende, yang terbunuh ketika Jenderal Augusto Pinochet mengudeta pemerintahan sosialis Allende pada 1973. Budiman mengerti Chile dengan baik karena tesisnya di Universitas Harvard tentang kegagalan Allende memakai sosialisme. Victor Jara seorang pemusik popular mirip Fals. Lagu-lagu Jara penuh kritik sosial. Jara juga main gitar akustik. Jara mati bersama dengan Allende.

Saya punya kesan Iwan enggan atau malu menanggapi Budiman. Iwan lebih banyak diam. W.S. Rendra, teman lama Budiman, lebih banyak bicara dengan gayanya yang teatrikal. Rendra khusus memperkenalkan kami kepada Djody yang disebutnya sebagai seorang pengusaha-cum-seniman. Rendra mendominasi pembicaraan malam itu dengan sekali-sekali ditanggapi Djody, dan Sawung Jabo. Leila Ch. Budiman, istri Arief, jatuh hati pada Iwan yang disebutnya “anak manis.”

Salah satu isu sampingan yang mereka diskusikan adalah kejengkelan Rendra dan kawan-kawan terhadap industri rokok. Mereka jengkel pada industri ini—yang sering jadi sponsor utama konser-konser musik—karena seenaknya menempelkan pesan sponsor di panggung. Logo rokok dipasang di pusat panggung. Mereka memaki-maki industri rokok karena mengganggu estetika. Mereka mengatakan sulit untuk tak menerima sponsor rokok karena kontribusi mereka besar tapi jangan begitu caranya.

Ironisnya, mereka kurang tertarik mendiskusikan dampak rokok pada anak-anak muda penggemar mereka. Mungkin karena mereka sendiri perokok berat. Iwan juga perokok. Suratkabar-suratkabar setempat memberitakan protes ini. Diam-diam beberapa mahasiswa melihat para tamu Jakarta ini, bukan saja mengisap rokok, tapi juga ganja.

Saya tak mau menghakimi. Beberapa teman saya juga menggunakan ganja dan biasa-biasa saja. Saya kira isu ganja bukan soal benar atau salah. Ganja mirip dengan rokok. Ia tak mematikan. Ganja berbeda dengan obat-obatan kimiawi macam narkotik, esctasy, atau putauw yang bisa berakibat fatal kalau kelebihan.

Iwan mengakui memakai ganja sejak Palembang. “Habis gimana? Murah, bisa beli di mana-mana, enak?” Jabo tak mau berkomentar soal ganja. Dalam lingkungan Swami, mengisap ganja mendapat semacam legitimasi karena dianggap biasa. Djody dan Rendra juga saya lihat mencoba daun ganja yang dilinting kecil.

“Tadinya mau kayak Bob Marley, punya kebun ganja sendiri. Nyanyi, ganja, nyanyi, ganja. Tapi kan dilarang hukum, (dilarang) agama. Dalam hidup ini, orang yang nggak mabuk lebih banyak dari yang mabuk,” kata Iwan.

Kresnowati, seorang mahasiswa Satya Wacana dan kenalan Endi, ikut jadi panitia. Wati tak melihat ganja tapi terkejut menyaksikan awak Swami, termasuk Iwan, menggoda dan menjahili mahasiswi.

“Ya … kok gini?” pikirnya.

Wati menghibur diri dengan berpendapat Iwan laki-laki biasa.

“Manusia biasa yang punya talenta luar biasa.”

Menurut kawan-kawannya, periode ini cukup liar untuk Iwan Fals. Yos Rosana memutuskan pakai jilbab. “Dia bilang panggilan sebagai seorang muslim. Dia ingin memberikan contoh pada Iwan dan anak-anak untuk lebih ingat agama,” kata Fidiana, istri pemain kibor Iwang Noorsaid, pasangan yang berteman dengan keluarga Iwan. Yos juga agak khawatir pada pengaruh W.S. Rendra, orang yang dianggap guru oleh Iwan, tapi punya reputasi longgar dalam urusan perempuan. Rendra menikah tiga kali. Djody juga baru menikahi Sandi Harun.

“Iwan kan good looking!” kata Wati.

Malam yang dinanti-nantikan pun datang. Swami main di Lapangan Pancasila Salatiga. Malam itu saya ikut menonton dan ikut bernyanyi, “Bento, bento, bento.” Saya merasakan adanya semangat perlawanan di sana dan bersyukur Indonesia punya musisi macam mereka. Endi mungkin warga Salatiga yang paling bahagia malam itu.


SAMBUTAN hangat membuat Swami plus Setiawan Djody tertarik maju lagi. Mereka mendirikan kelompok baru dengan nama Kantata Takwa. Perbedaan personalia Swami dan Kantata Takwa terletak pada W.S. Rendra dan Djody.

Djody jadi bos sekaligus pemain. Rendra memakai syair-syairnya, termasuk puisi "Kesaksian" yang terkenal itu, untuk dilagukan Kantata Takwa:

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

“Rendra tidak sekadar membuat lirik, tapi lebih dari itu. Kadang dia sebagai alat kontrol pada proses kreatif kami. Rendra pulalah yang memberikan judul ‘Kantata Takwa.’ Rendra ikut memberi warna dan bentuk yang jelas pada Kantata Takwa. Terutama pada saat pementasannya,” kata Sawung Jabo.

Djody mengeluarkan uang tapi agak tersinggung kalau dianggap keberadaannya semata-mata karena duit. Pada 1990, Djody pernah mempersilakan saya datang ke rumahnya di daerah Kebagusan, Jakarta Timur, melihat latihan Kantata Takwa. Djody cerita masa lalunya di Solo ketika jadi gitaris sebuah kelompok musik rock. Orangnya flamboyan, rambutnya tersisir rapi, kulitnya bersih, pakaiannya bagus. Rumahnya besar sekali. Besar sekali. Ruang keluarga, yang menghadap kolam renang, diubah jadi tempat latihan band. Di sana ada lukisan Djody besar sekali. Saya menduga karya maestro Basuki Abdullah.

Djody cerita bisnisnya dengan Sigit Harjojudanto, putra sulung Soeharto, maupun Eka Widjaja dari kelompok Sinar Mas. Dia juga cerita pergaulannya dengan Jenderal Benny Moerdani, mungkin orang terkuat kedua di Indonesia sesudah Presiden Soeharto waktu itu. Moerdani dinilainya pintar dan tahu seni. Tak ada rasa takut dalam cerita Djody. Dia cerita isu yang agak pribadi tentang Moerdani. Bisnis adalah bisnis. Seni adalah seni. Djody mencintai keduanya.

Namun tak semua orang suka dengan kolaborasi ini. Beberapa penggemar Fals dan wartawan musik menilai periode ini keiwanfalsan Iwan menurun. Ada yang menilai Iwan lebih vulgar. Teori “pihak ketiga” lagi-lagi dipakai. Ada yang menyalahkan Sawung Jabo. Dulu lirik Iwan lebih puitis. “Setelah gabung dengan Jabo lebih keras, Jabo kan suka main hantam?” kata fotografer Idon Haryana, menirukan analisis wartawan tabloid Detak A.S. Laksana. Banyak juga yang curiga pada W.S. Rendra. Lebih banyak lagi yang curiga pada Djody.

Muhamad Ma’mun mengatakan, “Secara eksplisit saya sampaikan, ‘Saya nggak suka sama Mas Djody.’ Saya sampaikan pada Iwan. Sampai beberapa tahun, saya masih ngomong nggak suka. Saya nggak pernah sekali pun ketemu Djody. Diajak ketemu Djody tapi nggak mau.”

Menurut Sawung Jabo, kalau Djody diragukan integritasnya, Iwan pun tak mau membela atau menjelaskan, karena dia sendiri “tidak tahu.” “Intinya kami bersama telah berbuat sesuatu, silahkan masyarakat menilainya sendiri. Apakah yang kita kerjakan bersama itu ada gunanya atau tidak?”

Ma’mun menganggap musik Kantata Takwa, yang memakai koor, synthesizer, dan kecanggihan lain, tak cocok untuk Iwan. “Ini bukan kemajuan. Yang dikenal orang di gang-gang, di pasar-pasar, ya lagu-lagu yang dulu. Karya besar nggak harus yang susah dibawakannya.”

Ma’mun mengacu pada lagu-lagu Koes Plus dan The Beatles. Dia menyebut lagu Imagine karya John Lennon. Aransemennya sederhana tapi nilainya tinggi. Ma’mun berpendapat karya-karya abadi aransemennya sederhana dan mudah dimainkan orang.

Rekaman album Kantata Takwa jalan lancar. Menurut Jabo, Rendra terlibat mulai dari gagasan awal. “Saya baru terlibat masuk di pertengahan proses pembuatan materi lagu, sebelum dimulainya proses rekaman di Gin Studio.” Lagu andalan mereka berjudul Kantata Takwa yang dibuka dengan dzikir. Albumnya diedarkan awal 1990. Sampulnya bergambar Djody, Rendra, Iwan, Jabo, dan Jockie Suryoprayogo. Ada satu kalimat berbunyi, “Setiawan Djody mempersembahkan Kantata Takwa.” Ini menimbulkan kesan album ini “hanya” persembahan Djody—bukan Rendra, bukan Iwan, bukan Jabo, bukan Suryoprayogo. Saya kira pilihan ini kurang bijak.

Pertunjukan Kantata Takwa di stadiun Senayan pada 23 Juni 1990 termasuk salah satu konser musik terbesar yang pernah diadakan di Jakarta. Media memberi perkiraan yang berbeda-beda. Ada yang memperkirakan penontonnya 100 ribu orang tapi ada juga yang 150 ribu. Sulit untuk tahu mana yang lebih akurat karena metode perhitungannya tak jelas. Kapasitas stadiun Senayan sendiri sekitar 90 ribu.

Tapi berapa pun jumlahnya, penontonnya memang banyak sekali. Mereka memakai lampu laser, bom asap, sound system raksasa, panggung spektakular. Atmakusumah Astraatmadja, mantan redaktur pelaksana harian Indonesia Raya dan kini ketua Dewan Pers, termasuk salah satu penonton. Putra sulungnya seorang pemanjat tebing, yang ikut dalam tim yang bertugas menyelamatkan pemain Kantata Takwa bila terjadi kerusuhan. Mereka memasang tali-temali dan bisa meluncur ke tengah panggung bila ada keributan.

Astraatmadja gelisah melihat massa sebanyak itu. Lelaki tua, yang mendampingi empat remaja ini, masuk ke Senayan dengan bantuan polisi. “Itu sebuah perlawanan kultural, bukan saja oleh Iwan dan kawan-kawan, tapi juga para penonton,” kata Astraatmadja. Dia menilai perlu keberanian luar biasa untuk menyanyikan Bento.

Setiawan Djody, si pengusaha kapal tanker, tampil main gitar listrik, seraya memekik-mekik. “Saya heran kok berani-beraninya Setiawan Djody itu,” kata Astraatmadja.

Endi Aras mengatakan Djody membiayai semuanya Rp 1 miliar lebih. Ma’mun menanggapinya dengan lebih hati-hati. Iwan dianggap bergaul dengan orang-orang yang terlalu liberal untuk ukuran keluarganya. Selesai Kantata Takwa, Iwan melanjutkan Swami II yang beredar 1991. Album ini kurang sukses. Sambutan jauh lebih kecil dari Swami. “Saya sudah bilang pada Iwan, ‘Jangan kamu ulangi lagi,’” kata Ma’mun.

Endi Aras mulai masuk lingkaran kecil Iwan Fals pada 1994 ketika ia diminta jadi manajer Iwan. Tanggung jawab Endi serabutan. Dasarnya pertemanan. Kalau ada permintaan konser, Endi yang berhubungan dengan panitia, mengurus bayaran, menyewa alat, dan sebagainya. Honor Iwan sekali pertunjukan Rp 6 juta. Endi tak menerima bayaran rutin. Kalau ada pekerjaan dia diberi “uang transport.”

Endi juga jadi manajer produksi album Hijau. Di sini Iwan memakai dua pemain kibor: Iwang Noorsaid dan Bagoes A.A. Mereka banyak diskusi agar album ini secara artistik bagus. Lagu-lagu tak diberi judul. Hanya Lagu 1, Lagu 2, Lagu 3, Lagu 4. Endi dan pemusik lain kurang setuju tapi semuanya kalah argumentasi dengan Iwan.

“Biar agak lain saja,” kata Iwan.

Endi tambah stres karena produser Handoko dari Harpa Record dan Adi Nugroho dari Prosound bersaing membeli master album Hijau. Mereka tawar-menawar. Endi lapor ke Iwan soal tawar-menawar ini. Iwan malah tersinggung albumnya ditawar-tawar.

“Wah Ndi, masternya dibakar saja,” kata Iwan.

Gantian Endi yang jengkel karena merasa kurang dihargai. Endi dua hari sekali menemui Iwan, yang sudah pindah ke Cipanas, dua jam naik mobil dari Jakarta. Mereka akhirnya menerima harga Prosound Rp 365 juta termasuk sampul dan video clip. Endi mendapat Rp 10 juta dari anggaran Rp 65 juta untuk biaya produksi.

Sampul kaset dibikin disainer Dick Doang dominan hijau dengan menggunakan foto beberapa anak kecil bermain lompat-lompatan. Iwan tak mau namanya ditonjolkan. Dia tak mau sampul ada fotonya. Menurut Endi, Iwan berpendapat status mereka sama, delapan orang pemusik. Iwan mau nama Iwang Noorsaid, Bagoes A.A., Cok Rampal, Jalu, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Jerry Soedianto, dan Iwan Fals dicetak semuanya pada sampul. Dick Doang, juga seorang penggemar Iwan, setuju usul itu. Konsekuensinya, nama-nama musisi dicetak dengan font kecil. Endi kurang setuju dan khawatir kasetnya kurang laku.

Saya tanya pada Endi, kalau Iwan mau setara, bagaimana pembagian honornya? Endi tersenyum dan bilang Iwan “curang” karena honor musisi Rp 300 juta dibagi dua: 40 persen Iwan dan 60 persen tujuh musisi sisanya. Artinya, Iwan dapat Rp 120 juta sedang lainnya rata-rata dapat Rp 25 juta.

Selama mengerjakan Hijau, Iwan berhenti ganja, berhenti merokok, dan mulai salat. Hari-hari di Cipanas dipakai untuk “rehabilitasi.” Iwan tahu membuatnya tak bisa “panjang nyanyiannya.” Tubuhnya bentol-bentol, emosinya labil. Endi mengatakan ini periode “komunitas bersih” karena beberapa pemain, termasuk Noorsaid dan Heiri Buchaeri, rajin salat dan hidupnya sederhana. Kresnowati mengatakan ada juga musisi Hijau yang “pemakai berat ganja.”

Perubahan Iwan juga mengubah Karno, asistennya yang setia, yang biasa membantu Iwan untuk urusan pribadi, mulai mengatur instrumen musik hingga menyiapkan lintingan ganja. “Karno lebih seniman dari Iwan. Dia nggak menikah, mungkin karena nggak dapat-dapat, dan penggemar Iwan,” kata Wati.

Hijau diluncurkan 1992. Tak terlalu meledak di pasar. Endi kecewa, merasa kurang dihargai. Endi mundur dari pekerjaan.

“Endi punya kekaguman yang sangat pada Iwan. Tapi juga kekecewaan. Ngatur dia itu ruwet,” kata Kresnowati.


KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).

Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.

Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!

Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”

“Terus maunya apa?”

“Embuh, main musik atau buka bengkel.”

Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.

Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.

Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”

“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.

Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.

Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.

Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan.

“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.

Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang telepon-teleponan.

Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang badannya dingin.

“Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.

Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.

Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal.

“Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.

Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang meninggal.”

Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.

Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30.

“Aku ikut memandikan (jasad Galang),” kata Endi.

Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ... Lang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ..…”

Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.

Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.

“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana.

Iwan tak banyak bicara, menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu.

“Kepada kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.

Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.

Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor boleh.”

Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.

Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.

Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman, tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena tubuh Galang kurus ceking.

Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam. Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”

Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.

Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.

September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.

Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”

Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah. “(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”

“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”

Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.

“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan.

Dia tiba-tiba berteriak, "Hoooooooaaaaah ...."

Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan.

Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada.

Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena mengingatkannya pada kematian Galang.

Iwan bilang tak apa-apa.

“Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”


ROLLY Muarif termasuk satu dari sekian orang yang sering menemani Iwan Fals pasca-kematian Galang. Rolly adalah seorang musikus kelahiran Gorontalo, pernah menghibur penumpang kapal Kambuna jurusan Manado-Jakarta. Kalau menganggur, Rolly menjaga toko spare part di Kranggan, dekat Leuwinanggung.

Iwan sering mengundang Rolly ke Leuwinanggung. Iwan suka melukis dan mengobrol dekat makam Galang. “Sering curhat sama saya soal Galang karena cuma ada saya doang,” kata Rolly. Dia juga menemani Iwan main catur dan mengobrol hingga subuh. Suatu saat Iwan bilang, “Kalau untuk anak (kehilangan) ke orang tua, bisa dimaklumi, tapi kalau orang tua ke anak, itu berat.”

“Saya memahami saja,” kata Rolly pada saya.

Iwan banyak melukis, kadang-kadang di rumah Leuwinanggung, lukisannya dipajang, dilihat dari jauh. Rekaman album baru ditunda sejak kematian Galang. “Saya disuruh memandang, kadang dibalik,” kata Harun Zakaria, tetangga Iwan, yang juga sering mengobrol pasca-kematian Galang. Iwan juga memenuhi undangan dari masyarakat Leuwinanggung, acara jaipongan, kematian, pengajian, kenduri, perkawinan, salawatan. “Ke mana-mana ajak saya,” kata Harun.

Iwan juga bermain sepak bola dan membayar seorang pelatih untuk melatih anak-anak Leuwinanggung. Harun cerita Iwan menyumbang renovasi mushola dekat rumah mereka, “Karpetnya disumbang Kak Iwan.” Iwan juga melatih karate. Dia membuka dojo dan pesertanya sampai 200 orang. “Saya latih sendiri,” katanya.

Ketika krisis moneter menghantam ekonomi Indonesia, Iwan Fals sempat mencoba bikin lagu untuk menggugah semangat orang berusaha. Karya ini terhenti ketika demonstrasi-demonstrasi anti-Soeharto makin keras. Pada Mei 1998, Soeharto mundur dari kekuasaannya dan Indonesia memasuki era demokratisasi. Perubahan besar-besaran di ambang pintu. Iwan pun melihat saatnya ia mengambil langkah baru.

Iwan Fals melihat banyak penggemarnya kurang punya dasar ekonomi yang kuat. Iwan ingin “memberdayakan” mereka. Iwan pun mendirikan Yayasan Orang Indonesia dan minta Ma’mun jadi wakil ketua, Endi sekretaris, Yos bendahara, dan dia sendiri ketua.

Ini ternyata tak cukup. Iwan ingin melibatkan para penggemarnya langsung. Ide ini dibicarakan dengan Ma’mun, Yos, dan Endi. Hasilnya, mereka sepakat mengundang para penggemar Fals, lewat ke Leuwinanggung selama tiga hari pada pertengahan Agustus 1999.

Kresnowati diminta mengorganisasikan pertemuan itu. Lapangan belakang rumah Iwan ditutup pasir, dibangun tenda besar 600 meter persegi untuk tidur, dibelikan nasi bungkus, dan dicarikan sponsor perusahaan air mineral. Iwan minta tukang membangun 20 kamar mandi.

Ternyata sambutannya besar. Penggemar Iwan dari banyak golongan datang. Ada pencuri, ada bandar narkotik, karyawan biasa, bapak yang sepuh, perempuan tomboy, juga wanita berjilbab. Ada juga yang penampilannya “punk rock abis” dan bikin Wati deg-degan. “Di luar pagar juga banyak yang menunggu mau masuk. Maunya ketemu Iwan, berfoto bersama,” kata Wati.

Ketika diskusi, kualitas mereka kelihatan beragam. Ada yang berapi-api tapi banyak yang asal omong. Antusiasme ini mengejutkan karena Iwan lama tak muncul ke publik. Album terakhirnya keluar 1993.

Wati juga geli melihat tato pada penggemar Fals. Banyak yang punggungnya digambari Iwan. Ada pula tato jidat, daerah antara alis mata, ditato kata “Fals.” Dari Bandung sekelompok penggemar menato kata “Fals” di antara jempol dan jari telunjuk. “Kalau Fals pasti Iwan Fals. Kalau Iwan kan banyak,” kata Ainun Rofiq, manajer restoran cepat saji McDonald yang jadi bendahara Oi.

Semalam sebelum pertemuan, Iwan, Yos, Ma’mun, Endi, dan Wati diskusi. Intinya, mereka mau serahkan kepengurusan Oi kepada orang-orang baru itu atau mereka pegang sendiri? Mereka sepakat dipegang sendiri dulu. Kalau sudah jalan diserahkan pada orang banyak.

“Saya nggak mau kalau ketua. Konsekuensinya berat. Endi juga nggak mau. Sampai pulang nggak jelas. Ma’mun nggak mau juga. Ma’mun ingin Iwan jadi ketua. Endi nggak mau (alasannya) ini khan fans club. Endi keukeuh (harus) Wati,” kata Kresnowati.

Keesokan hari Kresnowati terpilih sebagai ketua Oi. Menurut Digo Zulkifli, penggemar asal Bandung, pada pertemuan tiga hari itu mereka diskusi: mau jadi fans club atau organisasi massa. “Kalau jadi fans club, idolanya sendiri, si bosnya (Iwan Fals) nggak enak.” Mereka memutuskan jadi organisasi massa.

Wati pada tahun pertama lebih meletakkan dasar administrasi. Mereka bikin kartu anggota, membuka cabang, dan membuat arsip. “Nggak mudah mengatur 10.000-an orang di seluruh Indonesia.” Kini Oi diketuai Heri Yunarsa, seorang pegawai negeri dari Serang.

Hambatan banyak. Wati melihat orientasi penggemar Fals masih kabur antara organisasi massa dan klub. Banyak yang masuk Oi untuk “cium tangan” Iwan. “Kayak ketemu raja … apalagi daerah lho ... kita jadi bingung ngeliatnya,” kata Wati. Masalah dana juga hambatan. Iwan mungkin orang kaya tapi mendanai organisasi butuh uang besar sekali.

Entah apa yang akan terjadi kalau Iwan suatu saat jadi kurang populer atau makin mengendurkan musiknya? Bagaimana bila Iwan meninggal? Sejauh mana Oi bisa bertahan kalau didasarkan ikatan emosional pada lagu-lagu lama Iwan Fals? Bagaimana mengubah loyalitas individu jadi loyalitas organisasi? Bagaimana Oi bisa “memberdayakan” anggotanya?

Saya ingat Elvis Presley, bintang musik pop Amerika 1960-an, yang mengatakan, “Music is like religion: when you experience them both, it should move you.” Menurut Sun Record, album Presley terjual lebih dari satu milyar selama masa hidupnya (Love Me Tender, It’s Now Or Never atau Are You Lonesome Tonight).

Musik Fals juga menggerakkan banyak orang di Indonesia. Fals dianggap mampu merekam semangat perlawanan orang-orang yang dipinggirkan pada masa Orde Baru. Ketika Presley meninggal, lagu-lagunya malah jadi abadi. Makam dan rumahnya ramai dikunjungi orang. Lagu-lagunya terus direkam ulang dan jadi tambang emas untuk ahli warisnya. Akankah Fals mengikuti jejak Presley? Apakah musik Fals sudah mirip pengalaman beragama?

Iwan sudah pernah memikirkan ini. “Ada saya atau tak ada saya, saya hadir di Oi,” kata Digo Zulkifli menirukan Fals.

Oi kini punya perwakilan di berbagai kota Indonesia. Ini organisasi unik tanpa preseden. Kantor-kantor perwakilannya juga unik. Di Cilegon ia nongkrong di kantor pemerintahan kabupaten. Di Tangerang berkantor di tukang jagal. Banyak juga yang berada di gang-gang sempit. Agus Suprapto dari Oi Yogyakarta mengatakan mereka mendapat bantuan dari Sultan Hamengku Buwono X.

Gema Fals juga tembus hingga Timor Lorosa’e. Hugo Fernandes, redaktur majalah Talitakum, memberitahu saya bahwa panitia kemerdekaan Timor Lorosa’e mengundang Iwan Fals ke Dili ketika negara itu hendak menyatakan merdeka 20 Mei lalu. “Semua orang Dili tunggu Iwan Fals mau datang. Orang kecewa karena Iwan tidak datang. Di Dili, dia itu kayak dewa.”

Tampaknya negara kecil yang punya luka tersendiri karena pendudukan Indonesia ini—sering dikatakan sepertiga penduduknya mati karena terbunuh atau kelaparan akibat 22 tahun pendudukan tentara Indonesia—punya banyak orang yang justru merasa ketertindasan mereka diwakili dan disuarakan Iwan Fals.


SESUDAH lama tak berkarya, Iwan Fals mengalami hambatan bikin album baru. Effendy Widjaja, salah seorang direktur Musica, membantu Fals mengatasinya. “A Pen yang mendobrak. Saya harus bikin lagu katanya. ‘Jangan loyo dong!’ Dia mrepet,” kata Iwan.

“Akhirnya saya bangkit, minjam duit. Dia pilih dari 300 lagu, dia tandai. Dia pandai, pilihannya saya lihat masih dalam bingkai saya.”

A Pen, nama panggilan Effendy, berunding dengan kakaknya, Sendjaja Widjaja atau A Ciu, presiden direktur Musica, dan Iwan pun diberi pinjaman uang. Mereka tak menyebut berapa pinjamannya. Musica hanya bersedia menjawab pertanyaan saya secara tertulis.

Saya memperkirakan pinjaman ini diperlukan Iwan dan Yos, selaku pemimpin Manajemen Iwan Fals, untuk membiayai “jadwal-jadwal” pemakaian studio untuk latihan, rekaman, dan sebagainya. Kalau biaya sewa studio dihitung Rp 500 ribu sekali pakai, Iwan mengatakan pada saya, ia memakai 720 kali jadwal untuk membuat album yang dinamai Suara Hati. Artinya, Iwan membutuhkan sekitar Rp 360 juta untuk membiayai jadwal rekamannya. Manajemen Iwan Fals memakai pinjaman Musica itu untuk membangun sebuah studio. Iwan lantas menyewa studio itu kepada Manajemen Iwan Fals. Agak rumit memang. Iwan berhitung bisnis dengan istrinya sendiri.

Bagaimana membayar Musica? Iwan menerangkan bahwa royalti sebuah kaset Rp 2.000. Kalau Suara Hati laku, katakanlah 150 ribu, berarti ia mendapat Rp 300 juta. Royalti ini dipakai membayar piutang Musica. “Dari segi ekonomi saya rugi. Saya nggak dapat apa-apa dari Musica. Saya hanya mengharapkan dari royalti ... kaset itu seumur hidup ya,” katanya.

Iwan memanfaatkan teman-teman lama—Inisisri, Nanoe, Iwang Noorsaid, dan Maman Piul (pemain biola)—untuk mengerjakan Suara Hati. Kesulitan terbesar muncul dari komputer. Iwan menggunakan komputer mutakhir Apple Macintosh G4 dalam studio barunya. “Saya nggak pakai operator karena nggak bisa bayar,” kata Iwan. “Saya juga mau belajar komputer.” Iwan tak memahami kerja Macintosh dengan rapi. Dampaknya, ada rekaman-rekaman yang hilang.

Khusus memilih pemain gitar prosesnya berbeda. Suatu hari Endi Aras mengajak Digo Zulkifli, gitaris asal Bandung yang juga penggemar Fals, berkunjung ke Leuwinanggung. Digo membantu Endi di Matamata Communications sesudah kenal saat pembentukan Oi. Hari itu Digo menemui Iwan di studio. Kebetulan Iwan lagi butuh orang mengisi gitar listrik. Di studio, menurut Digo, ia ditanya Iwan, “Digo kamu main elektrik?”

“Ya”

“Coba deh ini di album baru.”

“Saya minta waktu dan ruangnya saja,” kata Digo.

Iwan mempersilakan tapi mengingatkan Digo bahwa proposal Digo belum tentu diterima. Digo bersedia. Digo menduga Manajemen Iwan Fals masih mempertimbangkan gitaris kawakan Ian Antono, I Gede Dewa Bujana, dan Totok Tewel untuk mengisi gitar. Ketiga gitaris itu kenal Iwan. Ian Antono juga menata musik album Mata Dewa. Pilihan ternyata jatuh pada Digo Zulkifli.

Digo pun ikut rekaman bersama Inisisri, Nanoe, Noorsaid, dan Iwan. Ketika rekaman rusak, Iwan merasa sungkan minta kembali Nanoe, Noorsaid, dan Inisisri. “Nggak enak,” katanya. Digo dengan mudah dimintanya ikut rekaman ulang. Iwan pun membentuk band baru untuk mengisi sebagian rekaman yang hilang. Iwan mengajak Edi Edot (bass), Ayub Suparman (kibor), dan Danny Kurniawan (drum).

Belakangan ternyata ada rekaman lama yang ditemukan lagi. Dalam album Suara Hati, lagu Hadapi Saja muncul dua kali. Dua lagu, dua band, satu penyanyi, satu album. Kontribusi Noorsaid ada pada lima dari 12 lagu di sana.

Endi Aras melihat adanya dua band ini dengan kritis. “Iwan gampang meninggalkan kawan-kawannya. Grup yang sekarang ini dari penggemar dia semua. Itu dari Oi semua,” kata Endi, seakan-akan hendak mengatakan Fals sekarang dikelilingi orang yang relatif kurang setara kemampuannya dengan Iwan. Tak ada lagi Sawung Jabo, Inisisri, Ian Antono atau Jalu, Cok Rampal, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Iwang Noorsaid. Nanoe bahkan meninggal ketika Suara Hati belum sempat diluncurkan.

Padahal tantangan Iwan makin besar. Naik ke puncak tangga sangat sulit tapi mempertahankannya lebih sulit lagi. Umur juga bertambah. Iwan juga harus mengikuti selera penggemar yang lebih muda. “Kalau Iwan mau panjang, orang-orangnya harus profesional. Posisi manajer di situ bisa lemah karena istri sendiri. Iwan nggak bisa di-manage karena egonya sangat besar. Yos bingung juga,” kata Endi.

Suara Hati diluncurkan awal tahun ini. Tempo menyebut album ini lagu-lagunya bagus tapi aransemennya lemah. Hai memuji setinggi langit. Sambutan publik cukup baik. Keberadaan Oi tampaknya membantu pemasaran kaset Fals. Anggota-anggota Oi adalah penggemar fanatik Iwan. Manajemen Iwan Fals menyambung peluncuran album itu dengan konser Satu Hati Satu Rasa sekitar 40 kota, antara Maret hingga Agustus lalu.

Suasana Indonesia berbeda sekali antara konser Satu Hati Satu Rasa dan Mata Dewa. Pada 1989 hambatan Mata Dewa terletak pada polisi. Konsernya dilarang di Palembang. Kini demokratisasi mulai terasa di berbagai institusi negara, termasuk polisi, sehingga tur Satu Hati Satu Rasa tahun ini berjalan lancar. Tak ada larangan walau Manajemen Iwan Fals sempat memundurkan beberapa jadwal konser karena ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Agustus lalu. Alasannya, tenaga polisi dikerahkan mengatasi massa politik.

Iwan Fals bukan saja tampil di kota besar macam Jakarta dan Surabaya, tapi juga kota menengah macam Cilegon, Sukabumi, Kuningan, Bandar Lampung, Magelang, Mataram, dan sebagainya. Dari laporan suratkabar, jumlah penonton berkisar 5.000 hingga 15.000 orang. Tak sebesar konser Kantata Takwa dengan 100 ribu penonton tapi harus diingat bahwa konser kali ini jumlah kotanya benar-benar banyak.

Menurut Sendjaja Widjaja, hingga 25 Agustus lalu kaset Suara Hati sudah terjual 160 ribu. Ini lumayan untuk ukuran Musica walau belum selaris band remaja Sheila on 7 dari PT Sony Music Indonesia yang penjualan album tunggalnya bisa tembus satu juta keping.

Menurut Sendjaja, penjualan album Fals paling laris adalah Tembang Cinta (1993) sebanyak 535 ribu dan Best of the Best Iwan Fals sebanyak 466 ribu. Keduanya album kompilasi atau campuran. Best of the Best diedarkan tahun 2000 dan sampai sekarang masih termasuk album-album terlaris Musica.

Endi Aras mengatakan lagu Hadapi Saja disukai Iwan. Album ini mengingatkan pendengar pada kematian Galang Rambu Anarki. Ini juga mengingatkan saya pada penghormatan Eric Clapton kepada anaknya, Conor, dengan lagu Tears in Heaven. Conor masih berumur 4,5 tahun ketika jatuh dari lantai 56 apartemen Clapton di New York pada 1991. Clapton juga tertekan karena kematian Conor.

Aransemen Hadapi Saja meyayat hati. Permainan biolanya mengalun. Liriknya juga kuat. Saya kira kematian anak-anak mereka jadi dorongan besar bagi Clapton dan Fals untuk menciptakan karya yang ekspresif.

relakan yang terjadi dia takkan kembali
ia sudah jadi milik-Nya bukan milik kita lagi
tak perlu menangis
tak perlu bersedih
tak perlu sedu sedan itu
hadapi saja
hilang memang hilang
wajahnya terus terbayang
jumpa di mimpi
kau ajak aku untuk menari, bernyanyi
bersama bidadari, malaikat, dan penghuni surga

Endi Aras juga cerita proses pembuatan lagu 15 Juli 1996. Pada 15 Juli 1996 Endi menemani Iwan Fals pergi ke tempat Megawati Soekarnoputri, ketua Partai Demokrasi Indonesia, yang kedudukannya sedang digoyang tukang pukul dan centeng Soeharto. Iwan tak bertemu Megawati, hanya lihat dari jauh, tapi simpatinya muncul. Dua minggu setelah kedatangan Iwan, para tukang pukul itu menyerbu markas Megawati, menggusur para pendukung Megawati dengan kekerasan, dan memicu pergolakan Jakarta yang dikenang sebagai Peristiwa 27 Juli 1996.

Tapi kritik dari masalah rokok masih muncul. Kritik ini kali ini bukan datang dari Rendra, namun dari Santi W.E. Soekanto, wartawan The Jakarta Post, yang menulis bahwa sponsor utama Iwan Fals adalah rokok A Mild dari Sampoerna. “Inilah hal yang sama sekali tak dibutuhkan Indonesia: pahlawan yang memperkenalkan ‘pintu masuk’ pemakaian narkotika dan obat-obatan keras.”

Soekanto mengutip data World Health Organization yang mengatakan ada 1,1 miliar perokok di dunia. Jumlah ini akan meningkat hingga 1,6 miliar pada 2025. Di negara-negara kaya, jumlah perokok menurun, tapi jumlahnya meningkat di negara-negara miskin. Indonesia negara miskin bukan?

Departemen Kesehatan melaporkan 6,5 juta orang Indonesia tiap tahun terkena penyakit akibat kebiasaan merokok dan 57 ribu di antaranya meninggal dunia (kebanyakan laki-laki). Kebiasaan merokok membuat pemerintah kehilangan banyak sumber daya karena membiayai kerusakan-kerusakan akibat rokok.

Di negara-negara kaya kampanye antirokok berjalan kencang. Federation of Football Association (FIFA) November lalu menandatangani perjanjian dengan WHO melarang sponsor rokok di lapangan sepak bola. FIFA sengaja menyamakan pembukaan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang 31 Mei lalu dengan hari antirokok sedunia. MTV mendukung kampanye antirokok dengan memasang iklan para penyanyi yang menganjurkan remaja tak merokok. Di Amerika Serikat para penyanyi besar mendukung kampanye antirokok.

Industri rokok melawan kampanye ini lewat iklan dan promosi besar-besaran, terutama di negara-negara berkembang, baik lewat sponsor olahraga maupun musik. Iklan mereka menipu para remaja dengan kesan palsu bahwa rokok membuat mereka terlihat gagah dan dewasa. Rokok diidentikkan dengan olahragawan dan musisi ternama.

Ini dilawan. WHO di Indonesia memilih juara tenis Angelique Widjaja, binaragawan Ade Rai, dan peragawati Tracy Trinita untuk mendukung kampanye antirokok. “Sayangnya, tak terlalu banyak anak muda yang melihat Angie, Ade, atau Tracy. Para aktivis antirokok memerlukan senjata yang lebih besar. Seseorang dengan kaliber Iwan Fals,” kata Santi Soekanto.

Kolom ini mengingatkan saya pada diskusi Salatiga 12 tahun lalu. Dalam 12 tahun ini Iwan melihat Galang ikut-ikutan papanya merokok lantas mencoba obat-obatan hingga meninggal. Kehidupan pribadi Iwan memang berubah banyak. Titin Fatimah, sekretaris Manajemen Iwan Fals, mengatakan pada saya ketika ia mulai bekerja tiga tahun lalu, Iwan Fals sudah tak merokok.

“Suatu kenyataan hanya rokok yang bisa mengeluarkan dana cukup besar untuk pertunjukan musik. Dulu kalau pertunjukan indoor, banyak penonton yang tak bisa nonton. Kami memutuskan outdoor dan biaya produksinya besar. Hanya rokok yang bisa membiayainya,” kata Yos Rosana.

Fals sempat bilang dia mungkin bisa merokok lagi dengan tur sponsor rokok. Yos mengatakan lebih baik tidak tur bila Iwan Fals kembali merokok. “Mendingan nggak usah main,” kata Yos. “Saya juga nggak suka rokok itu. Saya tahu itu ndak baik. Ini buah simalakama,” kata Yos.

Henny Susanto dari Sampoerna, menerangkan kepada saya bahwa A Mild menghormati kontrak itu. Mereka mensponsori Iwan Fals karena penggemar Fals “sangat sesuai” dengan pangsa pasar A Mild.

Penjelasan Titin, Yos, dan Henny Susanto senada dengan materi diskusi Salatiga. Rokok dianggap menganggu estetika tapi bukan kesehatan. Saya sulit menyalahkan Iwan kalau ia belum berani menolak sponsor rokok karena kontribusinya sangat besar. Tanpa rokok mungkin tak ada konser.

Apa yang didapat Sampoerna? Henny Susanto menjawab, “Kesempatan untuk berkomunikasi dengan target market, baik yang datang ke pertunjukan maupun yang sekedar melihat publikasi yang kita lakukan.”

Kalau saya boleh menterjemahkan kata-kata Henny Susanto, A Mild merasa gembira dengan kerja sama ini. Para penggemar Iwan Fals, katakanlah orang semacam Fajar Wijaya, si pengamen bertopi merah itu, adalah pangsa pasar A Mild. Sedih juga mengetahui Iwan Fals ikut mendorong anak-anak muda merokok.

Kehidupan bukan sesuatu yang sederhana. Kehidupan sering penuh kompromi. Senja September itu, ketika saya meninggalkan Leuwinanggung, pikiran saya penuh dengan gejolak tentang Iwan Fals. Dia dipuja, disukai, dan dianggap manusia super, tapi ia juga mungkin kesulitan memenuhi harapan orang banyak yang menganggapnya bisa mewakili dan menolong mereka.

**

// Andreas Harsono \\


Baca Sumber:
http://www.andreasharsono.net/2002/10/dewa-dari-leuwinanggung.html

Fidel Castro, Revolusi Sampai Mati



Semasa kanak-kanak, Fidel tinggal di Santiago de Cuba, sebuah provinsi di Kuba, dimana ia menghabiskan hari-harinya dengan olahraga. Makanya, dia lebih unggul di bidang olahraga ketimbang prestasi akademis.

Masa mudanya beririsan dengan pergolakan politik: Fulgencio Batista, seorang tentara, berkuasa di tahun 1940 hingga tahun 1944. Dia berkuasa kembali di tahun 1952, setelah menggulingkan Presiden Carlos Prío Socarrás.

Dengan sokongan penuh Amerika Serikat (AS), Batista memerintah Kuba dengan tangan besi. Sampai-sampai Presiden AS John F Kennedy pernah bilang, “Batista adalah diktator paling represif dan berdarah-darah sepanjang sejarah brutalisme Amerika latin.”

Dia kemudian belajar ilmu hukum di Universitas Havana. Aksi-aksi protes mahasiswa sedang marak. Fidel akhirnnya terseret dalam gerakan mahasiswa itu. Sikap politiknya mulai jelas anti-imperialis.

Antara 1947-1950, Fidel berkunjung ke Republik Dominika dan Kolombia. Di sana, karena bersentuhan dengan perjuangan rakyat menentang rezim di kedua negeri itu, Fidel makin condong ke faham kiri dan revolusioner.

Castro kembali ke Kuba tahun 1950, dengan target utama: menyelesaikan studi hukumnya. Dia percaya, gelar hukum yang disandangnya bisa dipakai untuk membantu kaum tertindas dan melawan kediktatoran. Dia mulai mengorganisir kawan-kawannya ke dalam sebuah gerakan revolusioner yang bernama “Gerakan”.

Perjuangan bersenjata

Melalui “Gerakan”, Fidel mulai mengumpulkan ratusan kaum revolusioner. Sebagian besar dari adalah mahasiswa dan kaum miskin di kota Havana. Mereka kemudian dilatih perjuangan bersenjata.

Tanggal 26 Juli 1953, Fidel dan kawan-kawannya melancarkan serangan ke sebuah barak militer di Moncada. Sayang, serangan itu gagal. Fidel dan beberapa kawannya ditangkap.

Fidel harus rela dikurung dibalik jeruji besi. Namun, selama di penjara, Fidel rajin membaca buku, dari Marx, Lenin, Jose Marti, Freud hingga Shakespeare. Di proses persidangan, Fidel membacakan pledoi yang sangat terkenal, Sejarah akan membebaskan saya.

Fidel akhirnya dibebaskan tahun 1955. Begitu menghirup udara merdeka, dia langsung ke Meksiko. Di sana dia bertemu kawan seperjuangannya, Ernesto Che Guevara. Di sana juga dia mengorganisasikan kawan-kawan seperjuangannya yang tersisa ke dalam gerakan baru: “Gerakan 26 Juli” (diambil dari tanggal penyerbuan Barak Moncada).

Tahun berikutnya, Fidel dan kawan-kawan memulai perjuangan bersenjata di Kuba. Fidel bersama 81 kawannya—termasuk Che Guevara—berusaha mendarat di Kuba dengan menumpangi kapal bernama Granma. Sayang, pendaratan itu terendus aparatus Batista dan segera melakukan penyergapan. Hanya 21 orang yang selama—termasuk Fidel, Raul dan Che.

Setelah itu, Fidel bersama kawan-kawannya yang tersisa menyingkir ke pegunungan Sierra Maestra. Di sana mereka membangun basis merah. Dan, setelah perjuangan gerilya selama 3 tahun, Fidel dan kaum revolusioner berhasil menjatuhkan diktator Fulgencia Batista. Tepatnya 1 Januari 1959, yang dikenang sebagai “Revolusi Kuba”.

Api revolusi

Januari 1959, pemerintahan sementara terbentuk di bawah kepempinan seorang liberal, Manuel Urrutia Lleó. Fidel sendiri dilantik menjadi Perdana Menteri pada 16 Februari 1959.

Usai dilantik, Fidel sempat mengunjungi AS. Pulang dari AS, sekitar bulan Mei 1959, Fidel langsung meneken dekret reforma agraria untuk mengatasi ketidakadilan agraria.

Di bulan Juli 1959, pemerintahan Urrutia makin ke kanan dan anti-komunis. Situasi itu yang mendorong protes besar-besaran menuntut pengunduran diri Urrutia. Akhirnya, pada 23 Juli 1959, Fidel resmi menjabat sebagai Presiden.

Pemerintahan revolusioner di bawah Castro tidak menunggu lama untuk memulai program sosial-revolusioner, seperti pemberantasan buta-huruf, reforma agraria, nasionalisasi perusahaan asing dan layanan kesehatan gratis.

Dan sejak itu, hubungan Kuba dengan AS mulai memburuk. Upaya untuk menjatuhkan pemerintahan Castro pun dimulai. Puncaknya pada peristiwa yang disebut “invasi teluk babi”, yakni penyerbuan oleh ribuan milisi bersenjata kanan atas sokongan AS/CIA ke Teluk Babi di Kuba. Namun, rakyat dan kaum revolusioner Kuba berhasil mematahkan agresi itu tidak lebih dari 72 jam.

Sejak itu, Fidel tak henti-hentinya menjadi objek pembunuhan oleh CIA/AS. Setidaknya, ada 638 upaya pembunuhan terhadap Presiden yang gemar bermain catur itu. Berbagai cara dipakai CIA untuk membunuh Fidel: Pulpen beracun, cerutu beracun, pakaian selam beracun, hingga pil sianida. Tidak berhenti di situ, Kuba juga diembargo oleh AS.

Begitulah, dihantam angin topan dari mana saja, revolusi Kuba tetap berdiri kokoh. Bahkan, meski masih muda, revolusi Kuba tidak meninggalkan komitmen internasionalisnya: ikut serta dalam membebaskan Angola, membantu perjuangan rakyat Kongo, membantu rakyat Afrika Selatan melawan apartheid dan masih banyak lagi.

Kuba juga tak henti-hentinya melakukan aksi kemanusiaan: mengirim dokter gratis ke berbagai negara yang dilanda bencana (Chile, Aljazair, Haiti dan lain-lain). Berada di garis depan memerangi virus Ebola. Juga membantu berbagai negara dalam program pemberantasan buta-huruf. Di panggung dunia, Kuba di garis depan memperjuangkan pembebasan Palestina.

Di Amerika latin, Kuba menjadi api revolusi yang menginspirasi gerakan revolusioner. Mulai dari revolui Sandinista di Nikaragua hingga kemenangan sejumlah pemerintahan kiri di bawah panji-panji sosialisme abad-21 saat ini.

Di usia 90 Tahun

Fidel berusia 90 tahun. Umurnya sudah hampir satu abad. Di usia yang sudah senja itu, Fidel memang jarang muncul di hadapan publik. Tetapi dia masih rajin menulis refleksi di Granma, koran resmi Partai Komunis Kuba.

Terakhir kali dia muncul di Kongres Partai Komunis Kuba pada bulan April lalu. Di situ dia menyampaikan pidato yang berkesan tentang spirit menjadi komunis. “Ini mungkin yang terakhir saya bicara di forum ini….tetapi ide komunisme Kuba akan terus hidup di bumi ini. Bekerja dengan semangat dan martabat, dapat memproduksi kekayaan materil dan kulturil yang dibutuhkan manusia.”

Fidel memang sudah tua, tetapi dia tetap menjadi inspirasi bagi perjuangan untuk keadilan sosial di manapun. Terutama di Amerika latin. Hampir semua pemimpin kiri Amerika latin, seperti Chavez, Evo Morales, Correa, Daniel Ortega dan lain-lain, menjadikannya idola.

‘Bagi saya, Fidel adalah bapak, kawan seperjuangan dan seorang ahli strategi yang sempurna,” kata Chavez dalam sebuah wawancara dengan koran Granma di tahun 2005.

*****

Hari Jumat, 25 November 2016, sekitar pukul 22.29 waktu setempat, Fidel Castro menghembuskan napas terakhirnya. Dia telah mewariskan sebuah Revolusi paling bermartabat dan terus menjadi oase bagi mimpi dunia baru.

Selamat jalan, Komandante Fidel. Damai di surga.

________________
Raymond Samuel



Lihat Sumber:
http://www.berdikarionline.com/fidel-castro-legenda-revolusi-amerika-latin/

Socmed War Untuk Jakarta



Ketika Donald Trump memenangkan Pemilihan Presiden AS pada 8 November lalu, banyak orang terkejut. Pasar saham anjlok, nilai tukar melemah karena tak menyangka jika Trump yang sebelumnya banyak diberitakan negatif di media itu justru berhasil mengalahkan Hillary Clinton. Padahal, jika ditelusuri lebih lanjut di media sosial, tren kemenangan Trump sebenarnya sudah bisa dilihat.

Hasil analisis BrandEye yang mencermati korelasi antara jumah cuitan di Twitter dengan hasil Pilpres. Pada 7 November atau sehari menjelang pemilihan, dari 200.000 tweet di 11 negara bagian, terlihat lebih dari 50 persen responden di enam negara bagian yang pro kepada Trump. Tak hanya itu, sejak 31 Oktober hingga 6 November, sentimen pro Trump terlihat pada mayoritas negara bagian, kecuali Wisconsin.

Dunia maya memang bisa dijadikan salah satu barometer untuk mengetahui tren kemenangan seorang kandidat. Hasil penelitian yang dilakukan Andranik Tumasjan, Timm O. Sprenger, Philipp G. Sandner, Isabell M. Welpe pada 2010 juga menunjukkan hal yang sama untuk pemilu Jerman. Pada periode 13 Agustus – 19 September 2009, dilakukan pengamatan atas 104.003 twit. Hasil studi menunjukkan bahwa tren di Twitter mendekati hasil pemilihan yang sesungguhya. “Hasil kami menunjukkan bahwa Twitter dapat dipertimbangkan sebagai indikator yang valid untuk opini politik,” jelas hasil studi tersebut.

Pemilu India pada 2016 juga menunjukkan hasil yang sama. Penelitian yang dilakukan Md Safiullah, Pramod Pathak, Saumya Singh, Ankita Anshul (2016) melalui tweet yang mendukung menunjukkan hasil yang sama dengan hasil pemilu. Aam Admi Party mendapatkan suara terbanyak dalam pemilu dan berbanding lurus dengan total tweet yang mendukungnya.

Tim Media Sosial

Pergerakan tren, penguasaan dunia maya merupakan salah satu hal yang kini mutlak dilakukan para kandidat yang ingin memenangkan sebuah pemilihan. Tak terkecuali pemilihan Gubernur DKI Jakarta kali ini. Tiga pasangan kandidat Gubernur -Wakil Gubernur DKI Jakarta sudah jauh-jauh hari berusaha memantau dan menggunakan media sosial sebagai salah satu ajang kampanyenya. Tiga pasangan kandidat bahkan memiliki tim khusus untuk menggarap persaingan di sosial media.

Pasangan Ahok-Djarot kini punya Jakarta Ahok Social Media Volunters (Jasmev). Jasmev memang bukan nama baru di kalangan pengguna media sosial. Setelah sukses membawa Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama ke kursi kekuasaan di Jakarta pada Pilkada 2012, para relawan ini semakin sering terdengar.

Pada Pemilihan Presiden 2014, misalnya, Jasmev kembali muncul dan mengkampanyekan pasangan Jokowi dan Jusuf Kalla. Mereka menamakan diri Jokowi Advanced Social Media Volunteers (Jasmev2014). Kini, mereka kembali muncul untuk mendukung pasangan Ahok-Djarot pada Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan menyebut diri Jasmev2017.

Jasmev merupakan kelompok relawan tanpa bayaran ketika pasangan Jokowi-Ahok maju dalam Pilkada 2012. Jaringan relawan ini membiayai diri sendiri dan bersifat otonom. Pada Pilkada kali ini, mereka bersatu dengan Tim Pemenangan Ahok-Djarot di Rumah Lembang. Tugasnya membuat konten-konten positif viral di media sosial.

Kemunculan Jasmev2017 diikuti oleh calon pasangan lain dengan membentuk relawan sejenis. Pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni misalnya, pada 2 Oktober lalu, resmi didukung oleh para relawannya yang tergabung dalam KaribAGUS. Didirikan atas inisiator teman-teman SMA Agus di Taruna Magelang, Jawa Tengah,

Pasangan Anies Baswedan dan Sandiga Salahudin Uno pun tak ketinggalan. Mereka punya relawan dunia maya yang tergabung dalam jakartamajubersama.com. Melalui akun Twitter resmi @JktMajuBersama, tim pemenangan Anies-Sandi ini mengampanyekan program-program mereka.

Berbagai jargon untuk memikat pemilih pun ditebar dalam berbagai bentuk. Misalnya 23 janji kerja Anies-Sandi. Foto-foto kunjungan ke berbagai tempat pun dipublikasikan. Mereka membangun citra positif dan kerja nyata pasangan Anies-Sandi.

Mardani Ali Sera, Ketua Tim Kampanye Anies-Sandi mengatakan, guna memenangkan pasangan calon nomor urut 3 itu, dia bersama timnya fokus untuk melakukan kampanye di media sosial. Strateginya, membangun citra pasangan Anies-Sandi dengan membuat konten menjadi viral. “Konten the main yang jadi viral,” ujar Mardani.

Membayar Netizen

Selain memiliki relawan untuk bergerilya di media sosial, tim sukses para pasangan calon juga memelihara netizen bayaran. Tujuannya untuk merespons pemberitaan negatif dari para pesaing. Mereka bekerja dengan mengamati isu di jejaring media sosial, termasuk mengamati pemberitaan mengenai Pilkada DKI Jakarta. Jika ada konten yang bisa "dimainkan", mereka dengan cekatan akan menggarap isu menjadi viral di media sosial.

Seorang netizen yang menjadi pasukan bayaran menuturkan bagaimana cara kerja pasukan netizen bayaran ini. Tugasnya memantau berbagai isu di media sosial dan juga pemberitaan media massa. “Pokoknya aku nyebar berita dan komentar di setiap berita,” ujar netizen yang meminta identitasnya dirahasiakan itu. Untuk pekerjaan seperti itu, dia mendapat bayaran. “Sebulan Rp 2 juta,” katanya.

Menurut penuturannya, seorang netizen bertugas membuat lima akun anonim (samaran) untuk berkomentar di sebuah berita untuk kemudian disebarluaskan. Diupayakan menjadi viral demi mendongkrak pasangan calon yang mereka pasarkan.

Pasukan netizen bayaran tidak masuk dalam struktur resmi Tim Sukses atau terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mereka bekerja dari luar struktur. “Tidak sampai 100 orang,” ujarnya.

Keberadaan buzzer atau pasukan media sosial ini, menurut Yose Rizal dari Political Wave.com, bisa dianalogikan sebagai tim sukses. Meski tak masuk struktur, mereka kepanjangan dari inisiator tim kampanye. Sebab, kesuksesan calon pasangan dipercaya mempunyai hubungan nyata dengan kampanye di medis sosial.

Yose mencontohkan peran media sosial yang turut membantu kemenangan Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2012. Saat lembaga survei mengarahkan kemenangan pada Fauzi Bowo, para netizen justru berupaya memenangkan Jokowi.

“Tahun itu terlihat hanya Jokowi-Ahok yang memanfaatkan posisi strategis medsos hingga mengenalkan relawan medsos. Ada lebih dari 500 ribu akun yang melakukan percakapan Jokowi-Ahok. Kini medsos menjadi salah satu basis kampanye untuk menjangkau pemilih muda dan menengah di Jakarta,” kata Yose Rizal.

Yose mengaku susah menghitung berapa pengeluaran untuk berkampanye menggunakan media sosial. Sebab tidak semua buzzer politik dibayar. “Masalah biaya digital ini tidak seperti televisi. Buzzer ini susah perhitungannya. Walau da yang dibayar, tapi ada juga yang tidak. Agak sulit mengetahui nilainya karena biasanya mereka bekerja di bawah tanah,” katanya.

Ibu Kota Media Sosial

Seksinya kampanye Pilkada DKI Jakarta di dunia maya memang bukan tanpa alasan, sebab Jakarta merupakan kota dengan jumlah tertinggi pengguna media sosial di Indonesia. Jadi tak perlu kaget jika musim kampanye di media sosial mendapat perhatian dari para netizen.

Berdasarkan data Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom UI) tahun 2015, pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 persen atau mencapai 40 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Bahkan Jakarta merupakan kota dengan pengguna Twitter terbesar di dunia.

Sementara data Political Wave terkait Pilkada Jakarta menunjukkan, angka pengguna media sosial terus meningkat. Hal itu bisa dilihat dari kenaikan masing-masing calon pasangan. Misal percakapan pasangan Ahok-Djarot. Pada 9 November mencapai 30 ribu dan menjadi 46 ribu pada 11 November.  Tiga hari kemudian, angkanya mencapa 56 ribu. Pasangan ini unggul dengan 295 ribu atau 82,5 persen.

Sedangkan pasangan Agus-Sylvi, pada 9 November, juga naik dari 2.,000 ke 4.000 percakapan. Kemudian naik hingga 11 ribu pada 13 November. Dua hari  berikutnya, berangsur turun di kisaran 5.000-3.000 percakapan. Total percakapan pasangan ini mencapai 40.000 atau 11,2 persen.

Sementara pasangan Anies-Sandi, percakapan di media sosial yang awalnya dimulai dari angka 3.000 naik menjadi 4.000. Kemudian berfluktuasi di angka 3.000 dan 2.000. Pada 15 November turun menjadi 1.200 percakapan dengan total hasil percakapan mencapai 22.000 atau 6,3 persen.

Menurut Nukman Luthfie, pakar media sosial, tensi di media sosial memang meningkat di setiap masa pemilihan pemimpin baru, seperti Pilkada atau Pilpres.  Sebab publik ingin mendapatkan pemimpin terbaik dengan men-share segala info yang menguntungkan kandidat pilihannya. Karena mereka tidak bisa berbicara di media konvensional, maka media sosial menjadi jalan keluar.

Terlebih Pilkada yang digelar di Jakarta yang merupakan ibu kotanya media sosial di Indonesia. “Ini yang kemudian membuat kontestan sadar betul. Kalau ingin menang di Jakarta, mereka harus main di media sosial. Makanya mereka, akun resminya, akun pendukungnya, semua bergerak di media sosial terutama di Facebook dan Twitter,” kata Nukman Selasa (15/11/2014).

Perang di media sosial selama kampanye Pilkada DKI Jakarta masih akan terus bergulir dan hampir pasti semakin ramai. Akankah “penguasa” di dunia maya bakal jadi pemenang di akhir perang? (tirto.id : bim/nqm)

Donald Trump, Sang Presiden Republik Twitter





Donald Trump masih menjadi sosok yang sama di Twitter. Ia tetap lugas, ganas, bahkan terkesan tidak tahu etiket. Keberhasilannya terpilih menjadi presiden Amerika Serikat tampaknya tidak serta-merta mengubah gaya komunikasinya di media sosial. 

Yang terbaru, Trump kembali mengobarkan peperangan terhadap salah satu media ternama di AS: New York Times. Trump melancarkan serangkaian cuitan untuk menyerang New York Times yang sebelumnya memberitakan Trump atas dugaan penggelapan pajak selama 18 tahun terakhir. Selain itu, New York Times juga menjadi salah satu media yang mendukung pesaing Trump, Hillary Clinton. 

Kemurkaan Trump atas New York Times muncul setelah media ini dianggap membesar-besarkan konflik di kubu Partai Republik saat penyusunan kabinet. New York Times melaporkan bahwa orang-orang di kubu Trump saling berebutan posisi di dalam kabinetnya yang tengah dibentuk. 

Selain itu, Trump kesal setelah media ini memberitakan bagaimana perdana menteri Inggris, Theresa May, harus menunggu 24 jam sebelum bisa memberi selamat kepada Trump lewat telepon.

“Berita tentang transisi pemerintahan dari @nytimes sangat mengada-ada dan salah besar. Semuanya berjalan lancar. Saya juga sudah bicara dengan beberapa pemimpin negara,” cuit akun @realDonaldTrump. 

“Saya telah menerima dan menelepon banyak pemimpin dunia, tidak seperti yang diberitakan @nytimes. Rusia, Cina, Saudi Arabia, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan banyak lagi. Saya selalu terbuka. @nytimes cuma kecewa karena mereka terlihat konyol saat meliputku,” imbuhnya.

Sejak kemenangannya dipastikan pada 9 November 2016, sang presiden terpilih telah menelurkan 23 cuitan. Akun @nytimes adalah akun yang pertama kali disebut dan setelahnya masih disebut-sebut melebihi akun manapun. Seluruh cuitan Trump kepada @nytimes bernada negatif, termasuk sindiran kepada @nytimes yang dianggap Trump selalu meremehkan dirinya selama kampanye.

Komunikasi ala Trump

Mantan juru bicara House of Representatives AS, Newt Gingrich, berpendapat bahwa gaya komunikasi Trump cenderung seperti CEO sebuah perusahaan dibandingkan politikus atau birokrat. Hal inilah yang harus diantisipasi oleh media-media AS di sepanjang masa jabatan Trump nanti. 

“[Gaya komunikasi] ini mungkin membingungkan bagi jurnalis politik tradisional karena mereka terbiasa dengan etika-etika tradisional, tetapi anda tidak bisa menempatkan standar ini kepada Turmp,” ujarnya seperti dikutip Fox News. 

Pandangan “komunikasi ala CEO” Gingrich ini didasarkan oleh gaya Trump saat memilih anggota kabinetnya beberapa hari terakhir ini. Ia memilih untuk bertemu dengan para calon anggota kabinetnya di Trump Tower—kantor dan markas besar kerajaan bisnisnya. Selain itu, Trump juga menyempatkan diri untuk berbagi kepada netizen terkait proses ini. 

“Sungguh sebuah pemilihan yang terorganisasi dengan baik. Hanya saya yang tahu siapa saja para finalis yang masuk ke dalamnya,” cuit Trump pada 15 November 2016. 

Lewat penyebutan kata “finalis” itu, disadari atau tidak, Trump telah mengibaratkan pemilihan kabinetnya seperti putaran akhir program televisi “The Apprentice” yang disponsorinya. Dalam program tersebut, Trump berperan sebagai seorang CEO yang tengah menyeleksi calon pekerjanya. Ia bisa dengan entengnya berteriak “Anda dipecat!” kepada peserta yang kinerjanya tidak memuaskan.

Trump juga merupakan tipe orang yang tidak menyukai protokoler yang berlebihan. Ia belum pernah menggelar konferensi pers resmi selaku presiden terpilih. Konferensi pers adalah sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan presiden terpilih AS. Sebagai perbandingan, Obama menggelar konferensi persnya hanya tiga hari setelah terpilih pada 2008 lalu.

Alih-alih menggelar konferensi pers, Trump justru memprioritaskan berbagai wawancara di stasiun TV pada jam prime time, bersafari menemui pendukungnya, serta, tentu saja, mencuit di Twitter. 

Sikap seenak perut ala Trump juga tampak saat ia tak segan-segan mencuit pemimpin negara mana saja yang telah meneleponnya. Tindakan ini dilakukan Trump untuk menjawab tulisan New York Times yang menyebutnya sembrono karena menerima ucapan selamat tanpa mengikuti arahan dari departemen luar negeri. 

“Tentu saja wajar saat Trump mengumumkan para pemimpin negara yang menyelamatinya. Tapi, menyebutkannya secara terang-terangan di Twitter untuk menyangkal pemberitaan sebuah media? Kapan Presiden Trump paham artinya sebuah rahasia,” cuit mantan penulis pidato George W. Bush, David Frum, seperti dikutip The Guardian. 

Trump adalah sosok yang cenderung tidak simpatik terhadap media. Sejak mengumumkan niatnya untuk maju sebagai presiden AS, media seakan kompak mencemooh Trump. Cemoohan itu bahkan terus berlanjut setelah Trump terpilih sebagai presiden AS. Liputan New York Times tentang kacaunya penyusunan kabinet Trump adalah salah satunya. 

Kebencian Trump akan media langsung diumbar hanya dua hari setelah pemilu AS berakhir. Pada 10 November 2016, ia mengeluarkan cuitan yang menuduh media berada di balik berbagai protes atas hasil pemilu yang memenangkannya. 

“Amerika baru saja menjalani pemilihan presiden yang terbuka dan sukses. Sekarang, para tukang protes profesional langsung turun ke jalan atas hasutan media. Ini sangat tidak adil!,” tandasnya.

Kolumnis The Guardian, David Smith, bahkan menyebut Trump tengah menggelar “one-man war” terhadap media sepanjang kampanyenya. Trump berkali-kali melarang beberapa media mengikuti kampanyenya serta meminta pendukungnya meneriaki bahkan mengintimidasi wartawan yang meliput.

Kebencian Trump pada media massa membuatnya beralih ke media sosial. Ia menjadikan akun Twitternya sebagai etalase tempatnya memajang diri sekaligus kegiatan-kegiatannya. Tak lupa, Twitter juga menjadi saluran tempat Trump memacak serangan kepada lawan-lawan politiknya. 

Situs Politico memberitakan, salah satu langkah pertama yang dilakukan Trump setelah terpilih adalah....mengganti biografi di Twitternya. Sebelum menang, akun Twitter Trump (@realDonaldTrump) tidak berisi biografi. Ia hanya mencantumkan kota tempat tinggalnya (New York) dan situs resminya (DonaldJTrump.com) di sana. 

Semua berubah tiga jam setelah Trump memberikan pidato kemenangannya. Akun Twitter Trump tiba-tiba sudah dihiasi sebuah kalimat singkat : “President-elect of the United States” atau “presiden terpilih Amerika Serikat”. Tak cukup sampai di situ, ia juga mengganti latar belakang foto cover-nya yang sebelumnya menggunakan bendera AS menjadi gambar Gedung Putih.

Trump juga tak alpa mencuit rasa syukur atas kemenangannya beberapa jam kemudian.

“Sebuah malam yang indah dan penting! Pria-pria dan wanita yang terlupakan setelah ini takkan terlupakan lagi. Kita akan bangkit bersama dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya!,” cuit Trump pada 9 November.

Media sosial seakan menjadi tempat dimana Trump menemukan keleluasaan untuk melancarkan serangan-serangan kepada lawan politiknya. Selain itu, media sosial juga menyediakan panggung lah baginya untuk menangguk popularitas. Meskipun baru mencuit sebanyak 23 kali setelah kemenangannya, tetapi linimasa Twitter Trump cukup aktif memperbaharui informasi tentang kegiatannya pascapemilu. 

Sebagai contoh, cuitan Trump yang menyindir @nytimes pada 13 November di atas telah dibagikan sejumlah 29.000 kali dan di-like sebanyak 92.000 kali. Cuitan Trump tentang para “finalis” yang masuk ke rancangan kabinetnya juga dibagikan sebanyak 26.000 kali dan di-like sejumlah 110.000 kali. Ia sendiri memiliki 15 juta pengikut di akun Twitternya. 

Donald Trump saat ini memang tengah disibukkan oleh proses transisi pemerintahannya. Namun, Trump juga harus mengingat satu hal: ia harus mempersiapkan transisi kepribadiannya dari seorang selebritas dan CEO perusahaan menjadi seorang presiden terpilih Amerika Serikat.